
Lewat karya “Ruang Kontemplasi,” dia menampilkan alat pancing dan bubu ikan, cangkul dan sekop, dan kumpulan renungan pribadi terkait persoalan-persoalan praktek beragama. Benda-benda itu disusun bertingkat dengan posisi melingkar, membentuk ruangan. Seperti dinding sumur yang mencuat ke atas.
Itu cara dia untuk berbicara soal kontradiski agama sebagaimana terjadi di Indonesia. Agama sangat dijunjung tinggi masyarakat sehingga membentuk masyarakat lebih religius, tapi sekaligus juga mengandung potensi-potensi konflik. Kekerasan dan potensi perpecahan karena perbedaan agama seringkali terjadi, terutama karena pemahaman beragama yang sempit. Kesempitan pandangan ini kian merasuk ke berbagai bidang kehidupan, semisal sekolah, lembaga sosial, peraturan-peraturan daerah yang berbasis agama.