Dalam sejarah seni, tubuh menempati posisi sangat penting. Tubuh adalah titik awal sekaligus menjadi tujuan akhir.
Mungkin kita bisa berangkat dari bidang seni rupa, yang kebetulan menjadi perhatian saya. Sebagai titik awal, tubuh manusia menjadi bahan studi anatomi yang sangat serius. Itu tampak dari studi-studi anatomi manusia di lembaga pendidikan seni di Eropa.
Para seniman, dalam hal ini pelukis atau pematung, misalnya, belum dikatakan lulus sekolah, jika belum berhasil menguasai anatomi tubuh manusia. Penguasaan itu sangat detail, bahkan mirip ilmu kedokteran yang menggeluti teknis anatomi. Hasilnya bisa dilihat dari sejarah studi atanomi oleh pelukis-pelukis modern dunia.
Tak hanya studi anatomi, para pelukis kemudian mengambangkan subject matter tubuh ini menjadi obyek yang lebih serius lagi. Banyak sekali seniman yang meraih reputasi tinggi karena pergulatannya yang sangat intens dengan persoalan tubuh. Tak hanya dalam khazanah seni rupa modern, hal itu juga terjadi pada seni rupa kontemporer.
Sebut saja, Pablo Picasso, seniman asal Spanyol, dengan permainan tubuh kubismenya. Marchel Duchamp, seniman yang Perancis-Amerika, dengan mobilitas tubuh yang merekam gerak. Begitu pula dengan Salvador Dali, seniman Spanyol, dengan tubuh-tubuh surrealis.
Pada seni rupa kontemporer, seniman mengembangkan soal tubuh dengan eksplorasi lebih gila-gilaan. Tak hanya meluki tubuh, mematungkannya, atau membuatnya menjadi instalasi. Bahkan, sebagian seniman menjadikan tubuhnya sebagai obyek eksplorasi itu sendiri.
Stelarc, seniman asal Australia, adalah contohnya. Dia menanamkan telingan di tangannya. Itu dilakukan lewat operasi yang membutuhkan setudi tinggi karena telingan itu masuk dalam jaringan tubuh yang hidup, dan diharapkan dapat menyatu.
Seniman lain asal Perancis, Orlan, mengoperasi wajahnya sebagai kegiatan happening art. Dia mengubah-ubah penampilannya untuk menemukan eksplorasi seni rupa. Bahkan, suatu kali dia mengubah wajahnya jadi mirip bison. Padahal, seniman ini sebenarnya berparas cantik.
Di Indonesia, persoalan tubuh juga menjadi perhatian serius seniman. Sejak Raden Saleh, kemudian para seniman modern "The Old Masters", hingga seniman muda kontemporer sekarang juga tak berhenti mengutak-atik tubuh. Meski tak seekstrim seniman seniman Amerika atau Eropa, usaha mereka untuk mengulik soal tubuh juga tak bisa dikesampingkan.
Coba kita simak apa yang dilakukan para the old masters. Meski berangkat dari soal tubuh, mereka mengembangkan bahasa visuak beragam. Ada beragam corak lukisan tubuh manusia, katakanlah seperti corak ekspresionis, naturalis, dekoratif, atau minimalis—dengan beragam variasinya.
Melihat corak-corak itu, kita diajak utuk menjelajahi berbagai kemungkinan ekspresi citra tubuh manusia. Seni memang berhasrat menguber keunikan dan kesegaran. Lebih dari itu, ekspresi tubuh itu juga merefleksikan bagaimana seniman memilih pesona paling menarik dari manusia.
Sebagian seniman meyakini, pesona tubuh pertama-tama memang terletak pada daya tarik fisiknya. Karena itu, mereka berusaha merekam keindahan fisik itu sepersis mungkin, termasuk ketika melukis kemolekan tubuh dan kecantikan wajah. Ini terasa pada karya Basoeki Abdullah, Dullah, Abdul Aziz, Itji Tarmizi, Sudarso, Trubus Soedarsono, atau Oei Sian Yok.
Sebagian seniman lain mendalami ekspresi diri. Termasuk dalam kelompok ini adalah Affandi, S Sudjojono, Hendra Gunawan, Kai It, Emiria Sunassa, Haridjadi Sumadidjaja, Mochtar Apin, atau Nashar. Mereka lebih ingin menangkap emosi, karakter, atau citra diri manusia ketimbang mengejar ketepatan anatomi tubuh.
Seniman lain terus berjibaku menemukan esensi bentuk tubuh manusia. Ini mendorong efisiensi garis demi mengejar perwujudan visual paling efektif. Lee Man Fong, Rusli, I Nyoman Gunarsa, dan Arby Samah bisa mewakili kelompok ini.
Bagi sejumlah seniman lain, tubuh ditampilkan dalam visual yang datar, flat, mirip gambar wayang kulit. Dengan tambahan ornamen, coraknya cenderung dekoratif. Ini terlihat pada karya Handrio, Suhadi, Widayat, atau lukisan G Sidharta Soegijo.
Manusia dalam balutan tatanan alam yang surrealis menjadi pilihan seniman seperti Amang Rahman, Soedibio, Kartono Yudhokusumo, dan Amrus Natalsya. Tubuh manusia masuk dalam dunia mimpi yang aneh dan tak ditemukan padanannya di alam nyata.
Seniman kontemporer Indonesia juga banyak bereksperimen dengan tubuh. Ingat saja bagaimana Arrahmaiani menjadikan tubuhnya sebagai titik pusat sebuah happening art, ketika laki-laki dipersilahkan mencoretkan tulisan di dadanya. Seniman Nurkholis asal Jogja melaburi tubuhnya dengan cat dan berenang di atas kanvas. Sementara Erika Ernawan membuat video tubuhnya yang dipantulkan di cermin, dan cermin itu lantas dikepruk dengan palu sehingga pecah-pecah.
Pertanyaannya, kenapa para seniman tergila-gila dengan tubuh? Apa hubungan seni dengan tubuh? Ada banyak jawaban soal ini.
Salah satunya, karena citra tubuh dalam tradisi seni rupa sejatinya menggambarkan pandangan dunia seniman. Jika ingin tahu gagasan seorang seniman, kita bisa mengamati dari pendekatannya dalam menggarap tema tubuh manusia.
Lebih itu, tubuh dalam karya seni rupa juga mencerminkan pandangan dunia seniman. Tubuh ditempatkan sebagai kedirian (jagat kecil) sekaligus sebagai bagian dari konteks sosial (jagat besar). Dengan menggamit konteks sosial, gambaran tubuh pada dasarnya mencerminkan semangat zaman.
Kita simak lagi lukisan the old masters. Hendra Gunawan, misalnya, meletakkan tubuh sebagai perayaan atas kegembiraan rakyat jelata. Kemiskinan dianggap sebagai drama hidup yang punya kegembiraan tersendiri. Tubuh menjadi sangat kental dengan muatan sosial.
Dalam karya S Sudjojono, tubuh lebih dijadikan instrumen untuk menggelorakan nasinalisme. Gagasan keindonesiaan tak hanya menjadi wacana seniman ini, melainkan juga dituangkan secara visual.
Lukisan Affandi mengundang kita untuk menyelami kemanusiaan secara luas. Dia mengajak siapa pun untuk bersimpati pada getaran-getaran orang-orang kecil, seperti kaum miskin, perempuan tua, atau pengemis.
Sementara Lee Man Fong menyodorkan tubuh sebagai pesona fisik. Tubuh yang polos, murni, tanpa beban wacana apa pun justru lebih menggugah. Itu mengingatkan, diri kita selalu punya sisi tubuh material.
Dari Arrahmaiani, kita melihat tubuh sebagai protes atas stigma terhadap tubuh perempuan, dan sperioritas laki-laki. Penggunaan tubuhnya menjadi semacam tantangan dan gugatan untuk mencairkan soal tubuh perempuan dalam dunia zaman sekarang.
Pada Erika Ernawan, tubuh jadi alat untuk memainkan citra lewat tubuh telanjang, kaca retak, sapuan warna-warni. Tubuh dalam karya seninya merupakan sarana untuk memprovokasi, menggugat, mengritik, dan mengolok-olok citra tubuh zaman sekarang.
Semua itu bisa disederhanakan seperti ini. Manusia, termasuk seniman, mengenal dirinya lewat lewat tubuh. Dia beraktivitas dengan tubuh, dan menjadikan tubuh sebagai obyek seni.
Dalam perkembangannya, tubuh obyek seni itu juga menjadi sarana seniman untuk menyatakan pendekatan, gagasan, dan bahasa rupa hasil eksplorasinya. Saat berssmaan, karya bertema tubuh digunakan untuk mengenal orang lain, lingkungan, semesta, dan dunia.
Lewat tubuh, seniman mengercap dunia. Lewat tubuh, mengada dalam realitas. Dengan begitu, tubuh adalah sarana seniman untuk mendunia.
Diskusi ini bisa menjadi bahan perbandingan dan masukan menarik bagi event Jakarta Biennale 2011. Perhelatan ini mengangkat tema umum “The Maximum City: Survive or Escape,” dengan salah satu sub-temanya mengulik soal “Narsisism, Voyeurism, and The Body.”
Soal terakhir ini berangkat dari fenomena budaya urban di kota-kota zaman sekarang, di mana tubuh manusia menjadi alat pencitraan diri (image), pemujaan diri (narsisisme), dan sasaran intip dan gosip (veyorisme). Para seniman kontemporer merespons masalah ini dengan menyuguhkan karya instalasi, performance art, video dan animasi, atau fotografi, yang digelar di Galeri Nasional Jakarta, 15 Desember 2011-15 Januari 2012.
Kurator Jakarta Biennale 2011
Ilham Khoiri, Bambang Asrini Widjanarko, Seno Joko Suyono
*Disampaikan pada sesi diskusi pemutaran film bertema "Body" Kineforum, Sabtu, 26 November 2011.
