gototopgototop
Banner
Artikel

 

Latar Belakang; Rockin’Frame is a different frame that rocks!

Musik, secara umum telah menjadi bagian dari hidup manusia sejak, misalnya, zaman antik (Yunani kuno) dengan mousike-nya - dimana musik di zaman itu berperan penting dan krusial dalam aspek pendidikan bagi anak-anak di kala usia dini. Bukan hanya alat ekspresi atau obyek kenikmatan inderawi semata, namun lewat music pun pemahaman akan keteraturan (cosmos) dalam struktur kehidupan (ada awal, akhir, dan gejolak/riuh-rendah di antaranya).


Secara lebih spesifik ke zaman kontemporer (zaman ‘hari gini’), musik telah menjadi bagian dari gaya hidup yang sangat dihidupi dan pada akhirnya kerap dimaknai sebagai sesuatu yang diterima begitu saja (taken for granted). Sebuah bagian dari aspek kehidupan yang remeh-temeh, yang kalau mau sedikit dipikirkan, tidak seremeh-temeh itu juga. Contoh praktis, sebuah mobil yang tidak dilengkapi dengan alat untuk memainkan lagu (music player), tidak akan secara signifikan mengurangi fungsi fisik dan mekanik dari mobil tersebut. Ia tetap dapat dikendarai tanpa adanya music player. Namun yang mungkin akan terkurangi, bagi sebagian besar orang, adalah rasa kelengkapan diri (self-sufficiency) dari si pengendara mobil tersebut ketika ia mengendarainya (entah ia sungguh seorang penikmat musik atau bukan). Adanya kebutuhan akan bunyi lain selain bunyi mesin dan mungkin juga selain bunyi percakapannya dengan orang lain yang berada dalam mobil yang sama. Musik bermakna ketika ia tidak ada. Entah keberadaan dari musik dimaknai adalah ‘asal ada’ atau ‘mesti ada’, ia tidak seremeh-temeh itu; ia tidak se-taken for granted itu.


Sebagaimana musik dipahami seperti ditulis di atas, tidak terlepas dari peran alat dan the so called, musisinya. Tidak lepas dari keterbukaan manusia untuk berdialog dengan, keduanya, alat musik dan notasi abstrak (angka-angka) yang akhirnya dibekukan sementara menjadi sebuah komposisi lagu. Bermusik bukanlah hanya melulu kecanggihan penguasaan alat dan membaca notasi abstrak. Bermusik adalah sebuah kerelaan berdialog dan tenggelam dalam bagian struktur kehidupan itu sendiri (ada awal, akhir, dan riuh-rendah di antaranya) lewat komposisi nada. Musik menjadi hidup ketika ia dimainkan / ditafsirkan oleh sang musisi dan musisi hidup sebagai musisi ketika ia rela dipermainkan oleh notasi dan alat musiknya; ini yang dimaksud dengan dialog. Dan, dalam lingkup tertentu, keberhidupan musik ini menjadi semakin terus intim dan padat ketika ia hadir bukan dalam format kaset, cakram padat (CD), ataupun MP3, namun dalam sebuah peristiwa panggung pertunjukkan musik itu sendiri. Pemahaman musik dalam lingkup inilah yang mau coba dibagikan lewat medium fotografi melalui sebuah acara yang diberi label Rockin’Frame; sebagai parallel event dari Jakarta Bienalle #14.2011 hasil kerjasama dengan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta).


Fotografi, mirip dengan pemahaman musik di atas, bukan sekedar alat dokumentasi belaka, namun termasuk salah satu bentuk dialog penentuan keberadaan diri. Keberadaan diri siapa? Keberadaan diri seseorang yang (sudah atau akan) menyebut dirinya fotografer panggung musik tentunya. Keberadaan seseorang disebut sebagai fotografer tertentu tidak lepas dari bagaimana ia berdialog dengan alat dan obyek fotonya; juga bagaimana alat dan obyek foto turut menentukan peristiwa dialogis tersebut. Dalam lingkup acara Rockin’Frame ini, fotografi, terutama fotografi panggung, tidak dimaknai hanya sebagai alat/medium dokumentasi yang ‘asal ada’ saja, namun lebih dari itu, ia mencoba mengantarkan sedemikian memeristiwanya hidup di panggung musik secara berbeda. Hal ini juga sekaligus mengguncang pemahaman fotografi yang umumnya hanya terkait dengan foto produk, foto fashion, foto jurnalisme, dan sebagainya. Bingkai (frame) pemahaman yang telah terbekukan tentang fotografi ini dicoba untuk diguncang (rocked) di acara Rockin’Frame ini. Sebuah bingkai (frame) yang berbeda, dalam memahami fotografi, untuk mencoba mengguncang (rocks) bingkai (frame) pemahaman yang sudah ada dan beku; Rockin’Frame is a different frame that rocks!

 

Tentang Stage ID @stageID

 

Fotografi panggung adalah celah dunia yang berbeda untuk digumuli bagi para pencinta fotografi dan hal inilah yang coba dibagikan melalui acara Rockin’Frame ini. Seperti posisi edukatif mousike di zaman antik, inilah sisi edukatif acara Rockin’Frame di zaman kontemporer ini. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang mau memaknai fotografi, terutama fotografi panggung musik, semacam ini? Siapa yang mau ‘mencoba mengantarkan sedemikian memeristiwanya hidup di panggung musik secara berbeda’?

 

Adalah sebuah komunitas fotografi panggung yang menamai dirinya Stage ID. Karya-karya fotografi panggung dari merekalah yang akan mengantarkan hidupnya dialog antara fotografi dan musik dalam acara Rockin’Frame ini. Merekalah yang akan menjadi educator sekaligus heroes baru dalam dunia fotografi panggung musik di Indonesia. Heroes dalam artian apa? Heroes dalam arti keberanian untuk menjadi martyr (yang pertama terbuka untuk ‘diserang’ sekaligus bertanggung jawab atas pujian) karena menawarkan sudut pandang yang berbeda tentang fotografi di luar bingkai (frame) pemahaman umum yang sudah mapan.

 

Tentang KulturBlender @KulturBlender

 

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah siapa yang mengatur acara Rockin’Frame dalam lingkup Jakarta Bienalle #14.2011 yang merupakan agenda 2 tahunan DKJ ini ?

 

KulturBlender; yang dalam acara ini memposisikan diri sebagai hub consultant -yang bekerjasama dengan Stage ID dan DKJ- mencoba mengaktualisasikan potensi-potensi heroes yang hadir dalam lingkup komunitas-komunitas; pada kesempatan ini, Stage ID sebagai komunitas fotografi panggung. Keberanian untuk melihat kemungkinan aktualisasi potensi-potensi dari komunitas-komunitas yang ada inilah yang menjadikan KulturBlender sepertinya; dimana umumnya, komunitas dilihat sebagai bersifat peripheral, marginal, dan tidak mungkin memiliki potensi bisnis.

 

Salah satu bentuk hub interacted dalam Rockin’frame ini adalah peran besar Komunitas Baca Pikiran @munapik yang merancang e-catalogue yang akan menghantarkan pengunjung pameran untuk menyimak karya & profil anggota Stage ID yang berpameran – yang bisa didapatkan dengan mengirim surel ke Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya .

 

Adapun beberapa acara (dalam istilah KulturBlender; hub activated) yang telah berlangsung adalah Creative Jam, Juli 2011, dan di minggu lalu adalah Clash of The Gamers.

Sedangkan untuk media geraknya, KulturBlender aktif dalam online programs yang ada sekarang ini.

 

Terimakasih.

 

Jakarta, 28 November 2011

 

-Disarikan oleh

Ferdinand Indrajaya @fairthee,

pengajar & kontributor untuk KulturBlender-

 

 

 

Artikel yang lain...

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

2
  • kineforum
  • slab
  • crucible gals
  • kpsi
  • TDR
  • mata perempuan
  • west gallery
  • frame
  • erasmus huis
  • ALI
  • SIGMA
  • norwegia
  • australia
  • SL
  • OG
  • ncca
  • finlandia
  • galeri nasional
  • nsw
  • finale
  • moca
  • mo space
  • yuz museum
  • artesan
  • linda gallery
  • kpg
  • perhimpunan jiwa sehat
  • blanc
  • rvca
  • jakarta-convention-exhibition-bureu
  • 1
  • pullman
  • mondrian
  • norske
  • 5inch
  • australia-the visual and craft strategy
  • asialink
  • AAG
  • oaf
  • australia for the arts
  • Eugenio Lopez Foundation
  • lost manila
  • gmci