gototopgototop
Banner

Citizen and Homo Ludens

Ambi-Text adalah kelompok para desainer asal Yogyakarta, dan kini beberapa anggotanya juga tinggal di Jakarta. Mereka terbiasa menggarap prorek-proyek desain di ruang publik yang mempertemukan desain, seni rupa, dan masalah sosial. Bahan yang dimanfaatkan sangat fleksibel, termasuk bahan limbah. Bagi mereka, ekspresi seni bisa sangat fungsional dan melibatkan partisipasi publik.

Kelompok ini menyiapkan semacam benda mainan dari besi bekas yang dicat warna-warni. Bentuknya kotak-kotak yang asyik dipanjat, plorotan, atau semacam kursi mainan. Semua itu ditempatkan di beberapa lorong terbuka di bawah jembatan layang, antara lain di kawasan Grogol dan Jalan Lodan, Jakarta. Anak-anak yang biasa berlalu lalang di lokasi itu bisa memanfaatkannya untuk bermain sesuka hati. 

Kelompok desain profesional yang berdiri di Jakarta pada 2004 ini berusaha menyelaraskan hubungan antara desain dan seni rupa. Mereka telah mengerjakan berbagai produk desain, home accessorisartwork  dan fashion. Karya-karya anggotanya cenderung costumized,   menggamit nilai-nilai lokal, dan berangkat dari bahan di ruang publik, pipa air, kawat, payung.

Di situs Taman Menteng, Jakarta Pusat, mereka membuat instalasi besar berupa burung mainan tradisional yang sekarang mulai dilupakan di kota besar. Dengan memanfaatkan bahan kawat dan kabel serta kejutan unsur kinetik, karya ini berusaha menjembatani khzannah permainan masa lalu, problem ruang publik saat ini, dan sentuhan permainan yang selalu dibutuhkan manusia. 

Close Act Theatre Company didirikan di Belanda pada 1991. Ia adalah kelompok teater jalanan yang terbiasa berkolaborasi dengan desainer, aktor, penari, koreografer bahkan musisi. Gaya kreasi visualnya memperlihatkan karakter unik.

Saurus merupakan salah satu karyanya yang menghadirkan kembali binatang Dinosaurus, yang dianggap punah, pada abad ke-21. Karya ini dipentaskan pada International Street Theater Festival di Athena dan Hi Seoul Festival. Saurus diboyong ke Jakarta untuk dipertontonkan di Erasmus Huis, Bundaran Hotel Indonesia saat car free day, Taman Fatahillah, Taman Ayodya, dan Galeri Nasional Indonesia. Sensasi tontonan, kerumnan publik, dan kejutan visual dinosuarus dari Clos Act Theatre ini menjanjikan “provokasi” pada publik Jakarta.  

Tidak diragukan lagi Heri Dono salah satu seniman “papan atas” Indonesia yang namanya mulai berkibar di era 1980-an. Ia kerap mendapat undangan untuk mengikuti dan menjadi pembicara workshop di pelbagai negara. Salah satunya menjadi keynote speaker di IMPACT7: International Multi-disciplinary Printmaking Conference di Monash University, Melbourne, dan di Art Gallery of South Australia (AGSA), Adelaide, Australia. Ia juga pernah memamerkan karyanya di luar negeri, termasuk London dan Hong Kong.

Karya-karyanya banyak yang bersentuhan atau bersumber dari seni pertunjukan wayang. Dengan dukungan multimedia, ia menjadikan wayang sebagai media sekaligus karya yang menyuarakan banyak issue sebagai kepedulian dirinya

Perupa kelahiran Bandung, 1970. Ia seniman multimedia yang memiliki ketertarikan pada aspek yang khas dari manusia. Lulusan ISI Yogyakarta dan IKIP Yogyakarta ini sempat tinggal dan belajar seni di Jerman, Singapura, Inggris, dan lainnya. Sejumlah karyanya telah dipamerkan di dalam maupun luar negri, seperti pameran Up To You, Kedai Kebun, Yogyakarta dan Indonesia Eyes, Saatchi Gallery, London.

Irawan Karseno lahir di Surabaya, tahun 1961. Menempuh di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB), dia kemudian aktif berkarya seni dan desain untuk pameran serta kebutuhan fungsional.

Lenny dan Irawan menggarap Pos Polisi yang berlokasi di area Sarinah-Thamrin, Jakarta dengan menampilkan seni publik. Lenny menampilkan patung yang dibalut police line. Irawan membuat bentuk telingan raksasa yang ditempel di dinding pos. Karyanya berangkat dari gagasan soal citra polisi di mata masyarakat yang dibutuhkan, diharapkan, tetapi sekaligus juga kerap dikritik. 

Jalan baru adalah kelompok dari Kota Bogor, Jawa Barat, yang terdiri dari Yana WS, Tommy Faisal Alim, Jono Sugihartono, Sispaendo, dan Bastian. Mereka terbiasa mengerjakan proyek seni rupa publik dan indoor. Karyanya cenderung cair dan menerabas batas bahan, pendekatan, dan gagasan.

Mereka memanfaatkan lobi utama Stasiun Gambir untuk memajang karya, berupa patung, instalasi, dan benda fungsional. Sebagian bahannya berasal dari limbah yang diolah kembali menjadi karya seni. Karya-karya itu berbicara soal waktu, perjalanan, dan berbagai drama kehidupan yang terkait dengan stasiun.

Bagi mereka stasiun merupakan tempat pertemuan yang memiliki dinamika yang sama. Ada penantian, harapan, rindu, doa, gelisah, terpaku, bergegas, mengemas, atau dibuang begitu saja. Segalanya datang dan pergi dengan cinta atau kebohongan. Stasiun adalah serpihan kehidupan yang dibungkus waktu. 

Sebagian besar anggotanya adalah alumnus jurusan Seni Rupa IKJ, Jakarta, yang telah bergelut dengan beragam profesi berbeda, seperti pelukis, pematung, pegrafis, juga pelaku fesyen. Dengan latar belakang itu, bahasa rupanya cair dan leluasa menjumput kekutan instalasi, lukisan, mural, video animasi, patung dan desain. Terkadang, masuk pula unsur gerak tari, pencahayaan, dan bunyi.

Kelompok ini membuat jembatan penyeberangan di atas sebuah sungai kecil di tengah taman di Jalan Padang—Minangkabau, Manggarai, Jakarta. Berbahan bambu, jembatan ini tak hanya menjadi alat transportasi penyeberangan, tetapi juga sebagai rekreasi arsitektural dan estetika. Ini menjadi semacam “temporary functional art object and subject.”

Singkatannya KPK, tetapi bukan Komisi Pemberantasan Korupsi, melainkan Kelompok Pecinta Kertas. Beranggota ribuan orang yang diorganisasikan lewat media jejaring sosial Facebook. Mereka terbiasa mengerjakan proyek-proyek seni dengan memanfaatkan limbah kertas.

Kali ini KPK bakal mengerahkan sekitar 1.000 anggotanya untuk mengolah limbah kertas menjadi berbagai macam boneka. Berbentuk binatang, monster, manusia, atau tampilan lain, semua boneka itu ditata di lorong bawah tanah (underpass) antara Stasiun Kota dan Terminal Trans Jakarta di kawasan Kota, Jakarta Pusat. Dengan pajangan yang unik, mereka bakal menyulap koridor dingin itu menjadi galeri yang hidup sekaligus interaktif.

Proyek KPK ini membuktikan bahwa limbah kertas bisa diolah menjadi benda berguna, bahkan menjadi karya seni yang interaktif dan melibatkan masyarakat dan mengisi ruang publik kota.

 

Atap alis adalah komunitas seni yang bermarkas kawasan padat penduduk di Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Kelompok yang terbentuk pada Desember 2006 ini terdiri dari aktivis seni dan sosial yang mengembangkan praktik berkomunitas, seperti workshop, pameran, dan berkarya bersama. Melalui hubungan itulah akhirnya dapat dimulai bentuk-bentuk kerjasama, pertukaran pengetahuan dan sumber daya yang dikelola secara bersama.

Kelompok ini menyiapkan “museum boneka” yang berisi bermacam boneka hasil workshop anak-anak setempat. Bahannya berasal dari berbagai limbah rumah tangga dan insdustri. Seni di sini tak hanya digalakkan untuk mengundang interaksi dan partisipasi publik, tetapi juga digarap sebagai instrumen pendidikan, kampanye lingkungan, dan upaya membangun harmoni sosial.

WPAP (Wedha Pop Art Portrait) adalah komunitas perupa yang berbasis di kawasan Blok M dan Barito, Jakarta Selatan. Mereka mengembangkan gaya ilustrasi potret wajah dalam bentuk mosaik dipecah-pecah dan berwarna-warni. Gaya pop art dunia yang dicairkan menjadi lebih rileks ini diterapkan pada kaos, poster, mug, atau lukisan lain.

Komunitas ini akan menampilkan proyek terbaru di Taman Ayodya, Jakarta Selatan, berupa potret orang-orang kawasan itu, seperti seniman, penyair, tokoh Betawi, penyanyi, pedagang, tukang semir sepatu, atau pengemis. Potret itu dicetak besar dan dipajang pada tiang-tiang taman dengan tatanan yang unik. Ada kesatuan antara hajat seni rupa, partisipasi masyarakat lokal, gaya ilustrasi, dan taman kota.

 

Kelompok Quint, Propagraphic, Begoendal, Reflect, dan Egauseless adalah kelompok seniman jalanan yang banyak membuat mural di Jakarta. Meski sama-sama berangkat dari tradisi seni jalanan, kelima kelompok itu memiliki ekspresi berbeda. Mereka semua akan membungkus tiang-tiang pancang monorel yang terbengkalai di Senayan—Manggala Wanabhakti dengan gambar-gambar karya grafiti atau mural jalanan. Semua itu menjadi semacam ajakan kepada masyarakat untuk membaca masalah Jakarta.

Begoendal bertutur tentang manusia yang meneriakkan persoalan masing-masing, seperti politikus, anggota legislatif, anak sekolah, sosialita, atau kaum agamawan. Sementara Egauseless dan Quint mengulik soal manusia urban yang merayakan gaya hidup kota yang penuh paradoks. 

Didirikan pada 2009 di Jakarta. Terlibat dalam sejumlah pameran bersama seniman lain, di antaranya “Apa Ini, Apa Itu” Art Exhibition, Pantai Lepang Klungkung, Bali, Vinyl Attack: Street Art Exhibition, Gardu House, Jakarta, PAT – Propagraphic Movement, Dukuh Atas, Jakarta Street Art Exhibition Ragad, Tűzraktér, Budapest, Hungaria. Terakhir Burning Man Festival Rites of Passage, Black Rock Desert, Nevada, Amerika Serikat. Reflect mengangkat dysutopia masyarakat urban yang gemar mengintip masalah orang lain. Reflect mengangkat dysutopia masyarakat urban yang gemar mengintip masalah orang lain.

Sabil, lahir di Makasar pada 1977, kuliah di Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin Makasar, dan kemudian di Jurusan Tari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Aidil Usman lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 1970, adalah koreografer yang terbiasa menggunakan berbagai medium. Popy Parisa adalah koreografer perempuan muda yang banyak bergelut dengan persoalan urban.

Mereka bertiga berkolaborasi untuk membuat pertunjukan koreografi seni rupa di Sungai Ciliwung, di dekat Pasar Baru, Jakarta Pusat. Kekuatan tari dan visual digabungkan dengan sentuhan karya perupa perempuan, Iriantine Karnaya, yang menghadirkan berbagai patung potongan tubuh manusia.

Mereka menampilkan karya yang berbasis kekuatan tari, karya seni rupa, sungai, dan kawasan pasar yang ramai. Temanya berangkat dari problem Jakarta sebagai “maximum city”: soal sampah, kekerasan, dilema keberagaman, kontradiksi teknologi, dan gaya hidup manusia urban. Judul karya mereka adalah Kali Mati dan Ritus Pembersihan Diri.

 

Serrum berdiri pada 2006, berawal dari sekumpulan mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta. Kini, komunitas ini membuka diri dengan menerima anggota dari luar kampus. Mereka aktif membuat karya-karya di ruang publik, seperti mural, graffiti, kartun, atau komik.

Komunitas ini yang akan menghiasi interior kereta listrik jurusan Tanjung Priok—Beos—Pasar Senen—Manggarai—Jatinegara dengan kampanye perilaku menumpang kereta dengan lebih santun. Berangkat dari diskusi dengan KRLmania dan FX Harsono, salah satu seniman Gerakan Seni Rupa Baru, mereka kemudian membuat stiker dan slogan untuk ditempelkan dalam ruang dalam kereta. 

Teater Bejana didirikan Daniel Hariman Jacob, Felencia, Chaca, In Bene, Dinda, Ayu, dan Jaja pada 19 Mei 2002. Memulai debutnya pada April 2003, mereka mementaskan drama Cairan Perempuan karya Riris K Toha Sarumpaet. Mereka banyak memadukan teater, musik, tari, dan lukis.

Mereka pernah mementaskan drama Hamil karya Andre Rousin di Gedung Kesenian Jakarta. Pada Februari 2004 mereka mementaskan Boenga Roos dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay di Taman Ismail Marzuki. Pada Agustus 2004 mementaskan drama Nonton Cap Go Meh di Balai Sarbini dalam rangka HUT Emas Pemuda Tridarma. Pada 2010 mereka mementaskan Pentjoeri Hati yang disadur dari drama Pentjoeri karya Kwee Tek Hoay dan Limbuk Njaluk Married karya Asep Sambodja yang keduanya disutradarai oleh Daniel Hariman Jacob.

Kali ini mereka menampilkan drama klasik pecinan naskah Kwee Tek Hoay berjudul Nonton Cap Go Meh untuk memperingati 150 tahun Kwee Tek Hoay. Kwee Tek Hoay lahir pada 31 Juli 1886, anak bungsu dari Kwee Tjiam Hong, pedagang obat-obatan Tiongkok yang kemudian juga membuka toko tekstil, tinggal di Bogor, Jawa Barat. Dia pedagang, pendidik, penulis, pencetak, sekaligus penerbit buku karya-karyanya sendiri. 

Pertunjukan Narasi dari Konstruksi Bambu oleh Teater Studio Indonesia adalah tanggapan atas pelbagai kekerasan dan keberingasan massa di Indonesia akhir-akhir ini, termasuk atas nama agama. Pentas bertumpu pada panggung berbentuk gunungan wayang setinggi delapan meter, sepanjang 16 meter. Panggung inatalasi ini dibuat dari bahan bambu yang diusung dari Serang, Banten.

Berangkat dari seni tradisi tua pra-Hindu, Hindu, dan Islam, pertunjukan teater ini mengolah metafor-metafor estetik kekerasan. Silat Terumbu, Egrang, Bebegig, Lais, Beluk, dan Pecut disokong musik ladang dengan instrumen Bambu, Terbang Gede, Calung Renteng, Angklung Buhun, Kokoprak dan Dogdog Lojor. Semuanya menanggapi kekerasan yang memenuhi hasrat agresif manusia, sekaligus merusak semangat peradaban.

Teater Studio Indonesia adalah kelompok teater kaum muda asal Serang, Banten. Mereka aktif menggabungkan antara khazanah budaya tradisional dan bahasa teater modern. Sutradaranya adalah Nandang Aradea.

 

The Light Surgeons adalah kelompok asal London yang mengembangkan seni multimedia. Karyanya meliputi film, grafis gerak, cetak, fotografi, instalasi, pameran dan live performance. Selama 15 tahun terakhir mereka telah membantu melahirkan bentuk baru dalam praktik lintas disiplin ilmu, mulai dari pertunjukan bioskop spektakuler, pameran besar di museum-museum dan berkarya untuk film digital.

Mereka telah mengembangkan karya-karya dengan spektrum yang luas seperti klien komersial dan institusi budaya dari berbagai proyek. Ini membawa mereka ke dalam industri kreatif pada setiap proyeknya dan terus mencari tantangan baru dalam berkolaborasi oleh siapa pun.

Kelompok ini menampilkan proyek LDN-Redux di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ini merupakan tontonan eksperimental dengan audio visual multilayer, dengan mengeksplorasi pemandangan dan arsitektur London.

 

Kelompok ini beranggotakan Herry Kardjono, Aryo Hendrasto, dan Dreananda, yang bermarkas di Kemang, Jakarta Selatan. Mereka banyak mengerjakan proyek desain produk dan patung untuk kepentingan seni dan terapan.

Mereka membuat tulisan raksasa “maximum city” yang dipasang di ruang publik di tengah Jakarta. Tulisan ini menggambarkan kondisi Jakarta yang memang sudah sesak, dan memicu banyak masalah dan tantangan. Masalah membuat persoalan bagi warga kota, sementara tantangan memicu kreativitas bagi mereka yang memandang soal ini dari kacamata lebih positif.

Tisna Sanjaya lahir di Bandung pada 1958. Selesai kuliah di Jurusan Seni Grafis Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, dia melanjutkan studi di Diplom Freie Kunsthochschule fuer Bildende Kuenste, Braunschweig, Jerman. Saat ini dia sedang menempuh program doktoral di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Meski berlatar belakang grafis, lelaki ini dikenal sebagai seniman yang mengembangkan karya multimedia. Sebagian karyanya merupakan proyek seni sosial yang berbasis masyarakat langsung dan dikerjakan bersama masyarakat. Salah satunya, proyek Cigondewah di Bandung Selatan, yang berupa pendampingan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan tradisi lokal dari serbuan industri yang membabi buta.

Dia berkolaborasi untuk membuat seni publik dengan kelompok Atap Alis di Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Bersama anak-anak dan kaum muda setempat dia menjalankan strategi seni rupa sosial yang lebih menekankan ikatan masyarakat dengan lingkungannya. 

  • west gallery
  • kpg
  • galeri nasional
  • ALI
  • ncca
  • norwegia
  • crucible gals
  • mo space
  • yuz museum
  • asialink
  • rvca
  • 1
  • Eugenio Lopez Foundation
  • AAG
  • artesan
  • linda gallery
  • gmci
  • erasmus huis
  • perhimpunan jiwa sehat
  • jakarta-convention-exhibition-bureu
  • mata perempuan
  • TDR
  • OG
  • nsw
  • SL
  • finale
  • kineforum
  • mondrian
  • 5inch
  • frame
  • kpsi
  • SIGMA
  • oaf
  • blanc
  • finlandia
  • moca
  • slab
  • pullman
  • lost manila
  • norske
  • australia-the visual and craft strategy
  • australia for the arts
  • australia