JAKARTA BIENNALE 09 ARENA PERHELATAN SENI RUPA DUA TAHUNAN YANG KE-13: USAHA MERENGKUH RAGAM SEGMEN MASYARAKAT
Apa itu Jakarta Biennale (JB)? Pertanyaan ini mungkin terasa aneh untuk sebagian orang, tapi sesungguhnya wajar saja. Karena, meski telah berlangsung puluhan tahun dan dikenal di kalangan pelaku dan pecinta seniósemenjak pameran pertama dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia bertempat di PKJ TIM (1968), Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, kompleks kegiatan dan pendidikan kesenian yang dibangun atas prakarsa Gubernur DKI Ali Sadikin. menjadi Biennale (seni lukis) Jakarta (1975), kemudian Biennale Seni Rupa pada 1993, dan terakhir diselenggarakan pada 2006óbiennale ini sampai sekarang tidak banyak dikenal oleh masyarakat umum di Jakarta.
Lantas, jika JB memang ada dan telah berlangsung selama beberapa periode, masih relevankah ia bagi publik seni? Apa maknanya bagi masyarakat awam? Pertanyaan-pertanyaan iniah yang menyebabkan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2006-2009, pada awal masa kerjanya, mengundang beberapa pakar seni rupa, untuk membahas situasi dan relevansi JB di masa sekarang. Para pakar yang hadir, antara lain: Enin Supriyanto, Farah Wardhani, Aminudin TH Siregar, Alex Supartono, Asmudjo Jono Irianto, F.X. Harsono, Hafiz, Rifky Effendi, dan Hendro Wiyanto; dari pihak DKJ: Marco Kusumawijaya, Firman Ichsan, Ade Darmawan, dan Bambang Budjono selaku ketua komite senirupa Dewan Kesenian Jakarta periode 2006-2009. Hasilnya, mayoritas menyatakan tetap perlu ada satu biennale seni rupa yang dianggap independen, mampu menghadirkan kecenderungan estetik terkini, serta bebas dari kepentingan komersial dan arus kecenderungan pasar, sehingga dapat menjadi barometer perkembangan seni rupa.
Berdasarkan pertemuan tersebut, komite seni rupa DKJ yang terdiri atas Marco Kusumawijaya (arsitek, ahli tata kota), Bambang Bujono (pengamat seni), Ade Darmawan (perupa dan pengajar), M. Firman Ichsan (jurufoto dan pengajar) mencoba menghadirkan JB ë09 dengan proses yang berbeda. Pada 3 September 2007 DKJ melakukan panggilan terbuka (open call) kepada sejumlah kurator Indonesia untuk memasukan usulan (proposal) tema untuk BJ. Melalui berbagai pertimbangan, terpilh Agung Hujatnikajennong, sebagai kurator utama untuk pameran berskala internasional, Zona Cair, yang diajukannya. Pameran ini kemudian menjadi salah satu ìzonaî di antara tiga zona dalam JB yang ke-13 ini.
Tema ARENA merupakan rumusan dari para anggota dewan. Salah satu anggota DKJ, Ade Darmawan, selama ini telah menekuni persoalan ekspresi seni rupa dalam kehidupan masyarakat urban. ARENA berusaha memberi jawaban pada pertanyaan-pertanyaan tentang seni dan kota; menjadikan JB lebih dapat dinikmati dan dimaknai oleh masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu pula biennale ini dimulai dengan beberapa kegiatan seni yang menghampiri masyarakat melalui Zona Pemahaman dan Zona Pertarungan, di mana karya para seniman, hasil kolaborasi antara praktisi antardisiplin seni (arsitek, desainer grafis, fotografer, dll), dan mahasiswa dihadirkan di ruang publik seperti pusat perbelanjaan, sampai pada tembok, papan reklame, dan taman. Sebuah terobosan baru yang tidak dilihat dalam JB sebelumnya.
JB 09 ARENA juga menghadirkan pameran yang bertempat di Galeri Nasional dan Grand Indonesia melalui Zona Cair dengan materi karya seniman kontemporer dari berbagai negara: Sebuah pameran berskala internasional, yang membantu kita mengenal kebudayaan bangsa lain; dan secara lebih khusus lagi, melihat bagaimana perkembangan seni rupa dunia bisa diperbandingkan dengan karya-karya seniman dari tanah air.
Demikianlah, JB kali ini mengupayakan kegiatan-kegiatan yang diharapkan dapat merengkuh segmen masyarakat yang berbeda-beda. Tidak hanya diselenggarakan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat, tapi juga menjadikan seni rupa sebagai bagian dari perikehidupan masyarakat luas. Biennale ini tidak akan mungkin berhasil tanpa tekad dan kerjasama antara para seniman, para pendukung, dan pihak penyelenggara. Kami berterimakasih kepada pemerintah DKI Jakarta, khususnya Gubernur dan jajarannya, yang telah memberi keleluasaan gerak dan fasilitas bagi terselenggaranya bentuk Jakarta Biennale 09 - ARENA ini.
JB 09 sudah pasti bukan tanpa kekurangan. Namun, berbagai upaya telah dilakukan agar bentuknya sesuai dengan perkembangan masyarakat terkini. Semoga JB 09 ini dapat berarti dan bermanfaat bagi kita semua.
M. Firman Ichsan
Jakarta Biennale 09 - ARENA
Direktur Eksekutif
