gototopgototop
Banner
Tentang JB#14 Konsep JAKARTA BIENNALE#14.2011

MAXIMUM CITY:

Survive or Escape?

1. "Bataviasche," Jakarta, dan Problemnya

Di Jakarta, Tuhan bukan hanya sedang menciptakan orang Indonesia, sebagaimana dikatakan Lance Castle dalam bukunya Profil Etnik Jakarta, tetapi sedang menciptakan warga dunia. Jakarta adalah kota masyarakat majemuk. Berbagai kelompok masyarakat, suku, agama, ras, dan golongan sudah lama bermukim di kota ini. Sejarawan peneliti kota Jakarta lama, Mona Lohanda, menyebutkan bahwa sejak bernama Batavia, Jakarta telah menjadi kota global. VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie—Perusahaan Hindia Timur Belanda) menjadikan kota ini sebagai pusat administrasi dengan wilayah meliputi negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Pemerintah kolonial Belanda bahkan menerapkan sistem adminsitrasi tata kota dengan hierarki sosial. Kelompok warga Belanda dan Eropa lainnya menjadi kelas atas tinggal di kawasan elite yang kini dikenal sebagai Kota Tua, dan sejak dekade kedua abad ke-20 mereka tinggal di kawasan Menteng.

Mereka menyebut diri mereka sebagai kaum "Bataviasche"―sebuah sebutan yang setara dengan istilah "Parisian" untuk orang-orang Paris, "The New Yorker" untuk penduduk kota New York, atau "The Berliner" untuk warga Berlin, Jerman. Sebutan ini merujuk pada selera tinggi warga Batavia. Ciri-ciri orang-orang Bataviasche menurut Jan Erdman Jordens, pendiri Bataviasche Nouvelles, koran pertama di Batavia yang terbit pada 1744, adalah berkarakter kosmopolit, penjelajah, multikultur, liberal, sadar ekonomi, peka kekuasaan, serta antusias pada informasi kebaruan ilmu pengetahuan dan seni. Mereka ingin menjadi yang terdepan pada masanya.

Adapun kelas menengah Batavia terdapat kelompok masyarakat Cina dan Arab yang umumnya pedagang. Baru kemudian kelas bawah yang terdiri dari komunitas-komunitas etnik di Nusantara, seperti Bugis, Bali, Ambon, Sunda, dan Flores. Mereka hidup dalam kampung-kampung yang lokasinya tersebar di kawasan pinggiran yang kerap melenceng dari rencana induk pemerintah kolonial, seperti di Manggarai, Kampung Melayu, dan Tanah Abang.

Di masa kolonial memang ada segregasi antara penduduk kelas atas dan menengah dengan kelas bawah. Tetapi di saat yang bersamaan terjadi bukan hanya kawin-mawin masyarakat dari berbagai kelas berbeda, tetapi juga terlibat urusan-urusan lain, terutama bisnis. Budaya Eropa dan budaya pribumi saling meleburkan diri, sebagaimana budaya kota dan budaya kampung saling menularkan pengaruhnya. Sebuah kota kosmopolitan, sebuah panci pelebur, yang bisa melebur apa saja yang ada di dalamnya menjadi identitas baru: identitas warga kota Batavia, Jakarta di kemudian hari.

Namun, di panci pelebur inilah kemajemukan justru memendam banyak problem, baik dari segi tata kota, sosial, dan budaya. Setelah Indonesia merdeka, Jakarta masih saja didera masalah kemejemukan itu. Apalagi, kota ini kemudian menggelembung sebagai salah satu kota terpadat di Asia. Jakarta mekar hingga ke kawasan penyangga di pinggiran, seperti Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor (biasa disingkat Jabodetabek). Penduduknya mencapai 9 juta orang, tetapi bisa membengkak menjadi sekitar 12 juta orang jika memperhitungkan para pekerja dari pinggiran yang memenuhi Jakarta siang hari.

Jakarta juga meledak dalam hampir semua segi kehidupan: perumahan, gedung perkantoran, fasilitas perdagangan, jumlah mobil, dan motor. Kota ini begitu cepat membengkak hingga melewati batas daya tampung dan daya dukungnya. Dengan kondisi ledakan yang sudah melebihi takaran yang sewajarnya, bisa dibilang Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) telah menjadi kota yang sesak. Gambaran ini selaras dengan tesis Profesor Jurnalisme dari New York University, Suketu Mehta, lewat bukunya Maximum City: Bombay Lost and Found. Dia menggambarkan Bombay, India, sebagai "The Maximum City. Secara visual, gambaran kemaksimuman Bombay itu terwakili dalam film terkenal peraih Piala Oscar Slumdog Millionaire.

Berbagai warisan masalah lama akhirnya juga terus melahirkan problem baru yang lebih kompleks bagi Jakarta. Banjir sejak zaman Batavia, misalnya, sampai kini belum teratasi. Krisis air bersih makin nyata. Masalah sampah tidak pernah benar-benar beres. Kemacetan menjadi-jadi. Kampung-kampung kumuh berjubel. Pengasong dan pengemis meluber. Angka bunuh diri naik. Kekerasaan dan kriminalitas makin tinggi, bahkan dengan tingkat kebrutalan yang sama sekali diluar dugaan. Lihat saja fenomena mutilasi, mafia hukum, sampai penembakan di tengah keramaian.

Daya tahan terhadap perbedaan di Jakarta menurun akhir-akhir ini. Makin banyak tumbuh kelompok-kelompok, sebagian dengan latar belakang agama, yang memaksakan persepsi mereka dalam melihat sesuatu secara hitam-putih. Perilaku intoleran pun kian marak.

Sejauh ini, berbagai problem kehidupan kota ini belum dapat diatasi. Pemerintah daerah dan aparatnya yang semestinya bertanggung mengatur kota ini ternyata lemah. Begitu pula pemerintah pusat. Kota ini akhirnya berdenyut tanpa arah yang jelas. Kecepatan dan kemampuan pemerintah mengatasi masalah dan mencari solusi tertinggal jauh dengan kecepatan pemerintah kota Asia Tenggara lain yang juga menghadapi problem sama seperti Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura .

Masyarakat akhirnya mencari jalan keluar sendiri-sendiri. Setiap orang di Jakarta mempunyai impian dan ilusi sendiri. Mereka memiliki fantasi bahkan halusinasi tersendiri tentang kota ini, tentang tubuh, tentang identitas, tentang harapan-harapan hidup menyenangkan di kota ini. Mereka ingin menjadi "Bataviasche" dengan cara masing-masing.

Masyarakat, dengan kata lain, punya cara bertahan sendiri untuk dapat hidup di Jakarta yang sesak ini. Mereka memiliki kiat-kiat tersendiri untuk bertahan menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan, kepahitan, dan tekanan hidup. Baik cara bertahan yang wajar atau dengan cara bertahan penuh fatamorgana atau kekerasan yang melukai orang lain. Mereka terombang-ambing antara pelarian yang kreatif atau pelarian yang benar-benar gelap dan eskapis.

2. The Maximum City: Provokasi Estetika Urban

Jakarta sebagai kota yang sesak (the maximum city) dengan berbagai persoalannya menyajikan fenomena menarik, terutama karena hadirnya bermacam paradoks. Dalam arti, banyak hal yang sebenarnya bertentangan, tetapi ternyata bisa hidup bersamaan, bahkan berdampingan, di kota ini.

Lihat saja, bagaimana budaya kampung bisa berdiri sejajar dengan budaya kota. Warga kaya di gedung mewah hidup bersebelahan dengan kaum miskin di tenda-tenda kumuh pinggir sungai. Budaya modern-rasional berdiri sejajar dengan yang tradisional-mistis. Begitu pula antara semangat komunal dan individual, paham sektarian-fundamentalis dan multikultursalis-liberalis, atau kesumpekan kawasan miskin dan kota-kota mandiri yang ditata nyaman.

Bergelut dengan paradoks Jakarta, niscaya kita bakal menemukan cara pandang berbeda tentang kehidupan. Soalnya paradoks itu kerap menghadirkan jurang (disparitas) yang dalam antara satu kutub dengan kutub lain yang bertentangan. Dinamika urban di kota ini bisa menjadi inspirasi yang menarik bagi kajian-kajian seni-budaya, bahkan untuk berkreasi seni. Sebagai inspirasi, kota ini adalah sumber provokasi yang menjanjikan ketidakterdugaan dalam karya seni rupa, terutama seni kontemporer dengan estetika urban.

Kenapa seni rupa urban? Karena seni rupa urban adalah tren global saat ini. Para seniman umumnya hidup di tengah kota, menyerap dinamika serta berbagai masalahnya, dan menyajikannya dalam bahasa visual terkini berdasarkan khazanah seni rupa yang melingkupinya. Tak terpaku dengan ruang-ruang galeri, seni jenis ini sudah melebar masuk ruang-ruang publik kota sehingga sebagian termasuk seni jalanan (street art).

Seni kemudian punya semangat melebur dalam denyut kehidupan masyarakat. Seni bukan lagi sesuatu yang sudah selesai, tetapi juga sebuah proses. Penyajiannya cenderung lintas media, memadukan teknologi terkini, dan bersifat interaktif. Sebagian seniman bergerak dengan basis komunitas.

Situasi mutakhir Jakarta juga mencerminkan situasi kota-kota besar lain di Asia Tenggara seperti Manila, Bangkok, Singapura, Ho Chi Min, Pnom Penh. Maka dari itu, kami menganggap problem kota yang sesak ini menarik untuk direfleksikan dalam perhelatan seni rupa Jakarta Biennale 2011.

3. Jakarta Biennale XIV 2011: Maximum City, Survive or Escape?

Sebagaimana namanya biennale seni rupa merupakan tolok ukur dari perkembangan seni rupa yang sedang berlangsung. Ia bersifat independen dan mengacu kepada standar kualitas tertentu. Lewat biennale seni rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mencoba memberikan pernyataan kepada publik tentang situasi mutakhir perkembangan seni rupa Indonesia, terutama jika dikaitkan dengan perkembangan seni rupa dunia. Biennale juga menjadi salah satu cara kita untuk mengenali tren-tren terbaru seni rupa dan pemikiran-pemikiran yang berkembang di sekitarnya.

DKJ telah menyelenggarakan biennale seni rupa sejak 1974 sebagai ajang pameran besar seni rupa dua tahunan. Untuk kali pertama namanya "Pameran Senilukis Indonesia". Kemudian berubah menjadi "Pameran Besar Senilukis Indonesia" (1976, 1978, 1980), kemudian berubah menjadi "Pameran Biennale" (1982), dan "Biennale" (1984, 1987, 1989, 1993—1994, 1996, 1998, 2006). Terutama pada 1993-1994, kata "senirupa" sempat menjadi keterangan judul. Sebelum dan sesudahnya memakai kata "senilukis" atau "lukisan". Sejak 2009 menjadi "Jakarta Biennale", tanpa embel-embel "pameran" dan "kompetisi" dan mulai berskala internasional—meskipun cikal-bakalnya sudah dimulai sejak Biennale Jakarta XII 2006.

Jakarta Biennale XIV 2011 mengangkat tema besar "Maximum City: Survive or Escape?" Dengan tema ini, kami ingin mengajak para seniman untuk merespons fenomena Kota Jakarta yang sudah sesak. Sebab di saat yang bersamaan masyarakat Jakarta juga menempuh jalannya sendiri dalam mencoba bertahan atau malah kabur dari semua kesesakan ini. Apakah nantinya terjadi paralelisme antara tanggapan seniman dengan sikap masyarakat Jakarta terhadap kotanya, itulah yang akan teruji dalam biennale ini.

Tema besar itu kemudian dibagi lagi dalam lima sub tema, yaitu: (1) Violence and Resistance; (2) Narcisism, Voyeurism, and Body; (3) Game, Leisure, and Gadget Victim; (4) Metro-Text Seductions; dan (5) Citizen and Homo Ludens.

Kami menganggap kelima tema itu merupakan problem yang cocok untuk menjadi bahan refleksi dan ruang saluran bagi potensi-potensi radikal estetika urban. Salah satu kekuatan estetikanya terletak pada kemampuannya menampilkan karya-karya yang penuh daya kejut dan penuh provokasi estetik.

Para perupa diharapkan akan menampilkan karya-karya instalasi yang tak terduga, berani, liar, segar, tidak klise, provokatif, penuh kejutan dan teror imajinasi. Seperti kita ketahui kekuatan estetika urban adalah bertumpu pada kekuatan ide-ide yang subversif dan juga kekayaan eksplorasi bentuk berbagai medium, dan meluas ke masyarakat.

-----------------------------



-
 
  • australia
  • kpg
  • galeri nasional
  • rvca
  • oaf
  • west gallery
  • SIGMA
  • OG
  • norwegia
  • SL
  • crucible gals
  • australia for the arts
  • norske
  • ncca
  • AAG
  • slab
  • lost manila
  • ALI
  • finale
  • moca
  • nsw
  • mata perempuan
  • artesan
  • TDR
  • kpsi
  • kineforum
  • Eugenio Lopez Foundation
  • 1
  • 5inch
  • linda gallery
  • jakarta-convention-exhibition-bureu
  • mondrian
  • australia-the visual and craft strategy
  • pullman
  • gmci
  • asialink
  • mo space
  • yuz museum
  • frame
  • finlandia
  • perhimpunan jiwa sehat
  • erasmus huis
  • blanc