gototopgototop
Banner
Siaran Pers

Jakarta – Perhelatan seni rupa akbar Jakarta Biennale #14.2011 akan meriahkan kawasan wisata Ancol. Bekerjasama dengan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Biennale mengundang seniman asal Amerika Serikat, Julie Laffin yang akan menggelar pertunjukan bertajuk “The Dress” – Sebuah Penampilan Gaun Merah Yang Panjang.

Pertunjukan yang akan dilangsungkan pada Jumat, 6 Januari 2012 itu merupakan hasil kolaborasi Julie laffin dengan Performer Ivana Stojakovic, seniman asal Serbia yang bermukim di Indonesia. Pertunjukan akan dilaksanakan di Pintu Gerbang Barat Taman Impian Jaya Ancol mulai pukul 15.00 WIB.

Penggagas utama Project Performance Art “The Dress” Julie laffin adalah seniman dari Amerika Serikat yang percaya bahwa tubuh perempuan adalah sebuah medan ekspresi seni yang menjadi semacam wilayah kontemplasi persoalan- persoalan tentang politik- tubuh wanita, representasi suara wanita dan publik serta kaitannya dengan wilayah urban. Dan Pakaian Wanita berupa Gaun Merah yang Panjang diluar kelaziman sebagai sebuah ikon yang selama ini dipakai oleh Julie Laffin.

Selama 2 jam, Julie laffin di Pintu Utama Barat Ancol akan menampilkan sebuah pementasan performance dengan gaun merah panjangnya dan dikaitkan pada benda tertentu. Gaun merah ini akan dipakai oleh performernya dan akan mengejutkan audiensnya dengan mewakili seolah wanita dengan tubuh yang bergerak, berjalan, kemudian berakhir menjadi “patung ” sebagai manequin tapi “hidup”. Julie Laffin, secara in absentia akan mengatur performernya ( yang diperankan oleh Ivana Stojakovic) dengan dibantu oleh asisten dan dua orang body guard untuk menjaga agar tidak tersentuh secara fisik dan diganggu oleh audiensnya.

 

Tentang Jakarta Biennale#14.2011

Sesuai namanya, Jakarta Biennale adalah perhelatan seni rupa internasional yang diadakan dua tahun sekali. Sejak 1968, Jakarta Biennale telah diselenggarakan sebanyak 14 kali. Jika 2009 lalu kami mengangkat tema Are(n)a, tahun ini kami menyelenggarakan Jakarta Biennale #14.2011 dengan tema “Maximum City”.

Penyelenggaraan Biennale, sebagai ajang seni rupa, secara internasional telah disepakati sebagai acuan pencapaian seni pada umumnya, maupun seni rupa pada khususnya. Selain itu juga menjadi tolok ukur kemajuan suatu kota atau suatu bangsa. Hal ini tentu saja dilandasi hubungan antara seni dan kota yang saling mempengaruhi.

Seni yang baik membutuhkan tempat yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, kota yang semakin maju, sewajarnya memberi ruang bagi seni. Dalam konteks inilah, Jakarta Biennale menjadi penting untuk tetap ada, bahkan terus berkembang.

Jakarta Biennale #14.2011 kali ini menghadirkan karya-karya seniman dari dalam dan luar negeri. Karya-karya mereka dipamerkan di galeri seni, taman kota, museum, mal hingga jalan-jalan raya. Pembukaan pameran utama Jakarta Biennale #14.2011 dilaksanakan pada 15 Desember lalu, dipimpin oleh Gubernur DKI Jakarta Dr. Ing. H. Fauzi Bowo.

Demi pemanfaatan yang maksimal, seni tidak lagi bertahan di menara gading dan dinikmati segelintir orang. Tapi di mana-mana, untuk kita semua. Dengan begitu diharapkan terjadinya pemerataan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap seni, sehingga mampu memberi kontribusi yang lebih baik untuk pembangunan kota.

 

Jakarta Biennale#14.2011

 

 

Dimas Fuady

Head of Communications

Informasi lebih lanjut hubungi : Sakya A. Wiradisuria, Dewi Puspa di (021) 31937639.

Website : www.jakartabiennale.org

Facebook : Jakarta Biennale

Twitter : @jakartabiennale

Jakarta – Berbagai karya seni kontemporer telah berhasil dipamerkan di berbagai ruang kota di Jakarta sepanjang Desember hingga Januari 2012. Mulai dari Galeri Nasional, Galeri Cipta II-Taman Ismail Marzuki hingga Taman Ayodya di Blok M, Taman Menteng di Jakarta Pusat dan Kampung Rambutan, Jakarta Timur.

Berbagai pertunjukkan yang dilangsungkan di tempat umum juga telah diadakan sejak Desember lalu. Pertunjukkan boneka Saurus raksana yang dibawakan secara beriringan oleh para kelompok seniman Close Act Theatre dari Belanda pada 18 Desember di Bundaran HI dan Taman Fatahillah. Begitu juga dengan pertunjukkan tari karya Aidil yang berjudul "Kali Mati", karya Poppy yang berjudul "Sungai Merah", dan karya Sabil yang berjudul "Ritus Cyborg" di Kali Ciliwung, depan Pasar Baru pada 22 Desember dan 23 Desember lalu.

Membuka 2012, giliran Jakarta Biennale akan “meruang” di mal atau pusat perbelanjaan. Mengambil lokasi Mal Central Park di bilangan Jl S. Parman, Jakarta Barat, Jakarta Biennale mengundang 33 seniman lokal dan internasional dengan karya-karya yang merespon tema "Game, Leisure, & Gadget Victim". Seniman seperti Entang Wiharso, Taufik Monyong, Dunadi, Anang Saptoto, I Nyoman Agus Wijaya hanyalah beberapa seniman dari banyak seniman yang ikut unjuk karya disana.

Jakarta Biennale#14.2011 dengan sub tema "Game, Leisure, & Gadget Victim" akan mengangkat isu bahwa Jakarta menjadi tempat sampah bagi berbagai “gadget” dan industri entertainment dunia. Jakarta menjadi sasaran empuk uji coba pemasaran para kapitalis dari Amerika sampai Cina. Produk-produk berbagai barang life style asli atau palsu, jasa hiburan dari segala penjuru dunia tiap harinya menyerbu kota, dimana warga sangat suka sekali menyerap apapun barang dan jasa tersebut tanpa pandang bulu.

Tentang Jakarta Biennale#14.2011

Sesuai namanya, Jakarta Biennale adalah perhelatan seni rupa internasional yang diadakan dua tahun sekali. Sejak 1968, Jakarta Biennale telah diselenggarakan sebanyak 14 kali. Jika 2009 lalu kami mengangkat tema Are(n)a, tahun ini kami menyelenggarakan Jakarta Biennale #14.2011 dengan tema “Maximum City”.

Penyelenggaraan Biennale, sebagai ajang seni rupa, secara internasional telah disepakati sebagai acuan pencapaian seni pada umumnya, maupun seni rupa pada khususnya. Selain itu juga menjadi tolok ukur kemajuan suatu kota atau suatu bangsa. Hal ini tentu saja dilandasi hubungan antara seni dan kota yang saling mempengaruhi.

Seni yang baik membutuhkan tempat yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, kota yang semakin maju, sewajarnya memberi ruang bagi seni. Dalam konteks inilah, Jakarta Biennale menjadi penting untuk tetap ada, bahkan terus berkembang.

Jakarta Biennale #14.2011 kali ini menghadirkan karya-karya seniman dari dalam dan luar negeri. Karya-karya mereka dipamerkan di galeri seni, taman kota, museum, mal hingga jalan-jalan raya. Pembukaan pameran utama Jakarta Biennale #14.2011 dilaksanakan pada 15 Desember lalu, dipimpin oleh Gubernur DKI Jakarta Dr. Ing. H. Fauzi Bowo.

Demi pemanfaatan yang maksimal, seni tidak lagi bertahan di menara gading dan dinikmati segelintir orang. Tapi di mana-mana, untuk kita semua. Dengan begitu diharapkan terjadinya pemerataan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap seni, sehingga mampu memberi kontribusi yang lebih baik untuk pembangunan kota.


Jakarta Biennale#14.2011


Dimas Fuady

Head of Communications

Informasi lebih lanjut hubungi : Sakya A. Wiradisuria, Dewi Puspa di (021) 31937639.

Website    : www.jakartabiennale.org

Facebook : Jakarta Biennale

Twitter      : @jakartabiennale

Jakarta – Perhelatan hajatan utama seni rupa Jakarta Biennale#14.2011 yang kali ini mengusung tema “Maximum City: Survive or Escape?” sudah dimulai pada bulan Desember ini. Setelah diawali oleh suksesnya pembukaan pameran oleh kelompok WPAP di Taman Ayodya, kelompok Artura di Taman Menteng, kelompok Atap Alis di Kampung Rambutan, dan kelompok seniman lainnya yang telah merespon ruang publik, kali ini giliran Aidil, Sabil, & Poppy yang akan melakukan pertunjukan di Kali Ciliwung, Jakarta.

Di kali yang terletak di depan Galeri Antara ini, akan digelar pertunjukan dengan melibatkan unsur rupa, musik, tari dan teater, yang akan digelar selama 2 hari hasil kolaborasi Aidil, Sabil, & Poppy, yang dikuratori oleh kurator tamu Adi Wicaksono. Mereka menampilkan karya yang berbasis kekuatan tari, karya seni rupa, sungai, dan kawasan pasar yang ramai. Tema tersebut berangkat dari problem Jakarta sebagai “Maximum City” yaitu mengenai sampah, kekerasan, dilema keberagaman, kontradiksi teknologi, dan gaya hidup manusia urban.

Pada hari Kamis, 22 Desember pukul 5 – 7 sore, karya Aidil yang berjudul “Kali Mati” akan ditampilkan oleh beberapa penari seperti Arief Lintau, Pepeng Abadi, Wirman Simago, dll. “Kali Mati” bercerita tentang sebuah cara untuk menghidupkan kembali kali Jakarta ini, akan digarap sangat apik di bawah pimpinan produksi Ollie AS.

Pada hari Jumat, 23 Desember akan diadakan dua kali pementasan. Pukul 3 – 4 sore, akan ada pertunjukan karya Poppy yang dibantu oleh perupa senior, Iriantine Karnaya yang berjudul “Sungai Merah”. Koreografi ini bertolak dari fakta banyaknya mayat-mayat korban pembunuhan yang dibuang di sungai-sungai Jakarta.

Lalu dilanjutkan dengan pertunjukan karya Sabil pada pukul 4 – 6 sore yang berjudul “Ritus Cyborg”. Koreografi ini berusaha mengkontemplasi sungai-sungai di Jakarta yang telah tercemar dan menjadi tempat limbah pabrik dan barang elektronik bekas.

Tentang Jakarta Biennale#14.2011

Jakarta Biennale adalah perhelatan seni rupa internasional yang diadakan dua tahun sekali. Sejak 1968, Jakarta Biennale telah diselenggarakan sebanyak 14 kali. Jika 2009 lalu kami mengangkat tema Are(n)a, tahun ini kami menyelenggarakan Jakarta Biennale #14.2011 dengan tema “Maximum City”.

Penyelenggaraan Biennale, sebagai ajang seni rupa, secara internasional telah disepakati sebagai acuan pencapaian seni pada umumnya, maupun seni rupa pada khususnya. Selain itu

juga menjadi tolok ukur kemajuan suatu kota atau suatu bangsa. Hal ini tentu saja dilandasi hubungan antara seni dan kota yang saling mempengaruhi. Seni yang baik membutuhkan tempat yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, kota yang semakin maju, sewajarnya memberi ruang bagi seni. Dalam konteks inilah, Jakarta Biennale menjadi penting untuk tetap ada, bahkan terus berkembang.

Jakarta Biennale #14.2011 kali ini menghadirkan karya-karya seniman dari dalam dan luar negeri. Karya-karya mereka dipamerkan di galeri seni, taman kota, museum, mal hingga jalan-jalan raya. Pembukaan pameran utama Jakarta Biennale #14.2011 dilaksanakan pada 15 Desember lalu, dipimpin oleh Gubernur DKI Jakarta Dr. Ing. H. Fauzi Bowo.

Demi pemanfaatan yang maksimal, seni tidak lagi bertahan di menara gading dan dinikmati segelintir orang. Tapi di mana-mana, untuk kita semua. Dengan begitu diharapkan terjadinya pemerataan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap seni, sehingga mampu memberi kontribusi yang lebih baik untuk pembangunan kota.

Jakarta Biennale#14.2011

Dimas Fuady

Head of Communications

Informasi lebih lanjut hubungi : Sakya A. Wiradisuria, Dewi Puspa di (021) 31937639.

Website       : www.jakartabiennale.org

Facebook    : Jakarta Biennale

Twitter         : @jakartabiennale

Teater Studio Indonesia berkolaborasi dengan Teater Kafe Ide Untirta akan mempergelarkan karya terbarunya, “Bionarasi Tubuh Terbelah” karya sutradara Nandang Aradea pada tanggal 12 Desember 2011 di halaman parkir Pusat Kegiatan mahasiswa Untirta pada pukul 20.00 wib. Kegiatan kolaborasi ini merupakan upaya Teater Studio Indonesia untuk melakukan konservasi pada teater kampus, supaya spirit teater kampus kian terasa gelora dan semangatnya.

Karya teater hasil kolaboratif ini, akan dipanggungkan kembali dalam Jakarta Biennale 2011 bertema “Maximum City”: Survive or Escape di halaman Galeri Nasional Jakarta pada 16 desember 2011 pukul 20.00 wib.

Gagasan “Bionarasi Tubuh Terbelah”, adalah sebuah respon pada fenomena Jakarta ‘maximum city’, sebuah konsep teater yang bukan untuk melawan budaya dan fenomena kota, tetapi seperti refleksi yang menggali, yang membawa spirit dari bambu-bambu dengan tubuh tanpa persepsi, dengan tubuh tanpa pretensi, tanpa curiga.

Suara, bunyi, gerak wawacan, tembang ruang, fashion, stilisasi pembesaran tubuh diproses dari “tubuh yang mengalami-dari tubuh yang berpikir”. Gagasan narasi dikonstruksi dari tubuh yang tumbuh pada penubuhan karakter arkhaik bambu-bambu itu. Otentisitas tubuh bambu sebagai metaphor masa depan kondisi manusia yang diharapkan memiliki kekuatan dan kelebihan fisik, intelektuan dan psikologis.

Kerasnya tubuh kota menjadi penting untuk lahirnya manusia-manusia yang menjadi individu-individu tegak sebagi pribadi, sebagai subjek kokoh dan tahan banting. Tubuh bambu adalah ruang kultur masa depan yang kian tanpa batas dan tak terbatas.

Menurut Nandang Aradea selaku penyaji gagasan, konsepsi, ide dan sutradara, “Teater yang saya buat ini, semacam ritus pensucian dan pensatuan tubuh yang terbelah dengan jiwanya karena teknologi belum mampu melawan kematian. Tubuh akan membusuk,

terbelah dengan jiwanya. Teater ini lahir di tengah pusaran kebngkrutan manusia dan kematian bahasa. Demikianlah gagasan teater yang saya buat ini” ungkap Nandang.

Bionarasi Tubuh Terbelah” yang seluruhnya menggunakan material bambu, baik kostum, setting panggung, property- dieksplorasi untuk mendapatkan impresi yang puitik dan arkhaik. Panggung kotak bolong-bolong yang dirancang penata artistik Otong Durachim ini, bisa bekerja sangat motorik dan teknologi mekanik.

Struktur dramaturgi yang lain adalah wawacan dari Babad Banten yang ditembangkan dengan langgam pupuh Dangdanggula dan Sinom.

Kekuatan narasi visual dalam teater ini, diharapkan memiliki bentuk pengucapan yang provokatif dan dan artistik yang tidak klise. Didukung dengan perkusi bambu yang ditata oleh Enry Johan Jaohari dan tembang oleh Ina Setiawati diharapkan memiliki teater yang mempunyai daya kejut.

Semoga saja penonton dapat menjalin komunikasi dengan segar, dengan bahasa yang belum terpolusi secara politis. Teater yang melibatkan 12 orang pendukung (Saly Al Faqir, Dindin Saprudin, Desi Indrayani, Akrom Lay, Imaf M. Liwa, Nandho Sumarna, Achu Syamsudin, Saduri Tebe Rahmat Darmawan, Safira Wiranda Maesaroh Atun, Vita Puspitasari, dan Devi), diproses melalui berbagai workshop selama 2 bulan.

Bionarasi Tubuh Terbelah merupakan karya Teater dengan konsep outdor dan diperuntukkan untuk kepentingan Jakarta Biennale 2011 yang bertema “Maximum City”: Survive or Escape.

 

Untuk Informasi & Contact Person:

Selvi (085721941986)

Manager Produksi Teater Studio Indonesia

Sekretariat: Jl. Raya Taktakan Kompleks Golden Varadise Blok I No.11 Serang-Banten

Email: Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya

 

 

Jakarta – Setelah terakhir kali hadir pada 2009 dengan tema ARENA, pesta seni rupa kontemporer internasional Jakarta Biennale kembali hadir pada tahun ini. Masih merespon soal kota, lebih dari 180 seniman baik lokal maupun internasional akan menghadirkan berbagai karya seni kontemporer sepanjang Desember hingga Januari 2012 mendatang. Namun yang membuat pesta seni rupa ini istimewa, karena karya-karya seni itu tidak hanya akan dipamerkan di galeri-galeri saja layaknya sebuah pameran seni, tetapi akan disebar di berbagai ruang publik seperti Bunderan HI, Taman Menteng, Taman Ayodya, Underpass Grogol, kantor pos polisi sepanjang Jl. Thamrin, tiang-tiang pancang monorail, hingga pusat perbelanjaan Central Park di kawasan Jakarta Barat.

Adapun peluncuran pameran outdoor Jakarta Biennale#14 telah dilangsungkan pada 4 Desember lalu bersamaan dengan peluncuran karya Komunitas WPAP di Taman Ayodya, di sekitar kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Selain di Taman Ayodya, terdapat belasan tempat publik lainnya yang akan dijadikan sebagai lokasi berpameran outdoor (data terlampir). Namun yang menjadi benang merah karya-karya outdoor kali ini adalah, Jakarta Biennale#14.2011 tidak hanya sekedar hendak memanfaatkan ruang publik sebagai ruang ekspresi berkesenian, namun lebih dari itu, bentuk pelibatan masyarakat sebagai subjek sebuah presentasi karya seni menjadi sebuah upaya untuk menghadirkan karya seni rupa yang lebih cair lagi bagi masyarakat.

Tentang Jakarta Biennale#14.2011

Sesuai namanya, Jakarta Biennale adalah perhelatan seni rupa internasional yang diadakan dua tahun sekali. Sejak 1968, Jakarta Biennale telah diselenggarakan sebanyak 14 kali. Jika 2009 lalu kami mengangkat tema Are(n)a, tahun ini kami menyelenggarakan Jakarta Biennale #14.2011 dengan tema “Maximum City”. Penyelenggaraan Biennale, sebagai ajang seni rupa, secara internasional telah disepakati sebagai acuan pencapaian seni pada umumnya, maupun seni rupa pada khususnya. Selain itu juga menjadi tolok ukur kemajuan suatu kota atau suatu bangsa. Hal ini tentu saja dilandasi hubungan antara seni dan kota yang saling mempengaruhi. Seni yang baik membutuhkan tempat yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, kota yang semakin maju, sewajarnya memberi ruang bagi seni.

Dalam konteks inilah, Jakarta Biennale menjadi penting untuk tetap ada, bahkan terus berkembang. Jakarta Biennale #14.2011 kali ini menghadirkan karya-karya seniman dari dalam dan luar negeri. Karya-karya mereka dipamerkan di galeri seni, taman kota, museum, mal hingga jalan-jalan raya. Demi pemanfaatan yang maksimal, seni tidak lagi bertahan di menara gading dan dinikmati segelintir orang. Tapi di mana-mana, untuk kita semua. Dengan begitu diharapkan terjadinya pemerataan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap seni, sehingga mampu memberi kontribusi yang lebih baik untuk pembangunan kota.

Jakarta Biennale#14.2011

Dimas Fuady

Head of Communications

Informasi lebih lanjut hubungi : Sakya A. Wiradisuria, Dewi Puspa di (021) 31937639.

Website : www.jakartabiennale.org

Facebook : Jakarta Biennale

Twitter : @jakartabiennale

Artikel yang lain...

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Mulai
Sebelumnya
1
  • ncca
  • pullman
  • jakarta-convention-exhibition-bureu
  • norwegia
  • finale
  • norske
  • ALI
  • nsw
  • OG
  • linda gallery
  • mo space
  • finlandia
  • frame
  • australia for the arts
  • australia
  • mondrian
  • artesan
  • AAG
  • oaf
  • crucible gals
  • moca
  • yuz museum
  • rvca
  • galeri nasional
  • slab
  • australia-the visual and craft strategy
  • SL
  • kpsi
  • mata perempuan
  • gmci
  • SIGMA
  • asialink
  • perhimpunan jiwa sehat
  • 1
  • blanc
  • 5inch
  • erasmus huis
  • TDR
  • kineforum
  • Eugenio Lopez Foundation
  • lost manila
  • kpg
  • west gallery