Seniman asal Yogyakarta, yang menonjol dengan kreativitasnya yang disebut-sebut sebagai seni scannography. Karena aliran seni yang ditekuninya itu masih terbilang langka di Tanah Air, pria kelahiran 24 September 1971 ini kerap mendapat undangan pameran di mancanegara sendirian. Ia sempat diundang oleh Museum Seni Fukuoka di Jepang, dan pameran di London, Inggris. Jebolan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini memulai melakukan karya seni scannography pada 2005. Ia pernah mendapatkan beasiswa untuk belajar di Museum Nasional Seni di Seoul, Korea Selatan. Ia melatarbelakangi aliran seninya sekarang ini dengan bekal pendidikan jurusan fotografi di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.
Teks dalam uang seribuan merupakan komentar-komentar dari si pemegang uang. Dalam uang kertas tersebut, tentu saja tidak hanya ada satu komentar, tetapi bisa beberapa, yang kadang saling menimpali, kadang tidak ada hubungannya sama lain. Uang seribuan yang kusut lantaran seringkali tidak masuk dompet, tapi berpindah dari satu tangan ke tangan lain menjadi salah satu cirinya. Kusam, kucel, berkerut. Begitu juga nasib pemiliknya, golongan kaum bawah.
