gototopgototop
Banner

Narcisism, Voyeurism, and The Body

Lahir di Jakarta tahun 1984, Cecilia kuliah di Jurusan Patung Fakultas dan Desain dan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat ini, dia meneruskan studi di Vetroricerca Glas & Modern, Bolzano, Italia. Perempuan ini aktif berpameran di dalam dan luar negeri. Salah satunya, 13th Asian Art Biennale Bangladesh, Bangladesh, tahun 2008.

Karyanya, “Swimmwers” menampilkan tubuh dua manusia yang sedang berenang. Terbuat dari kaca, tubuh dua perenang dengan kaca mata hitam itu menyatu dengan citra air yang juga dibuat dari kaca. Tubuh manusia dan air seperti tidak ada jarak.

Ini memberikan kenikmatan visual karena warna kaca, tekstur, dan penyatuan antara tubuh dan air. Lebih dari itu, ini mengusik kesadaran kita tentang kesalaran antara semesta dan tubuh manusia.

 

Spesifikasi karya

“Swimmers”

Patung, kaca

2011

Ia menampilkan sebuah rumah dengan dinding dilapisi semacam karpet. Alas yang biasa digunakan untuk melaksanakan ibadah itu sobek-sobek pada beberapa bagian. Di antara sobekan itu pengunjung bisa sedikit mengintip ke lukisan di belakangnya. Ternyata, di belakang karpet itu, tersembunyi banyak lukisan perempuan dengan pose terbuka.

Seniman ini hendak menghadapkan antara tampilan luar karpet yang biasanya untuk sujud dalam ritual ibadah dengan sosok-sosok perempuan seksi yang tersembunyi di baliknya. Tak hanya menimbulkan benturan dan mengusik rasa penasaran,  pertemuan dua hal yang biasanya bertolak belakang ini juga memicu ketegangan dan banyak pertanyaan. Apakah makna kesalehan? Apakah seksualitas? Bagaimana hubungan antara keduanya, baik dalam pencitraan di publik ataupun lenyataan di ruang privat?

Ketika kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, bersama  anak muda sekitar Lenteng Agung dan almumnus IISIP, Adel terlibat mendirikan  komunitas Forum Lenteng yang banyak bergerak dalam dunia visual. Pemenang pertama Asean New Media Art kelahiran 1983 ini karyanya telah banyak menjadi bagian sejumlah ajang seni rupa berskala nasional maupun internasional, di antaranya adalah Oberhausen Festival Germany-Unreal Asia (2009), Video OK, massroom project di Yogyakarta dan Bandung, dan lainnya.

Dalam keadaan menjadi bangkai, manusia diperkenalkan kembali apa itu tentang diri dan identitas. Dalam kondisi menjadi mati dan tinggal tubuh, kita bertanya  tentang berbagai hal yang kita persoalakan dan tidak persoalakan dalam keadaan hidup,

 

Spesifikasi karya

“Bangkai”

Video

2011-12-10

Seniman kelahiran 1981 dan sejak 2005 tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Selain belajar di Institut Kesenian Jakarta, seniman yang berkarya melalui media instalasi ini juga mendalami seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.  Beberapa pameran yang pernah diikuti antara lain: proyek instalasi ExplorArtion Plaza Grand Theater, Taman Ismail Marzuki, Jakarta  dan Cemeti Art House, Yogyakarta.

 

Spesifikasi karya

“So what’s wrong,..  the bitches is just hungry”

Instalasi, pita kaset

2011

Ia dilahirkan di Klaten, 1974, dan belajar seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Anggota komunitas Apotik Komik ini mengadakan pameran tunggal pada tahun ini yang bertajuk  Love/Velo di Sigi Arts, Jakarta. Bersama seniman lain, ia juga pernah pameran di luar negeri dan  sudah berulang kali berpartisipasi dalam pameran-pameran di Bali, Surabaya Yogyakarta, dan kota lainnya. Antara lain: Transfiguration: Indonesian Mythologies, Espace Culturel Louis Vuitton, Paris, Perancis, Homo Ludens #2, Emmitan Gallery, Surabaya, Indonesia; Membikinnya Abadi, Galeri Semarang, Semarang dan The Topology of Flatness, Edwin’s Gallery, Jakarta.

Kota di Indonesia selalu meminggirkan pengguna moda transportasi tak bermotor. Ini dianggap sepeda tak bermotor tidak cocok dengan kehidupan modern yang serba cepat dan pasti walaupun berisiko pada pencemaran udara, tersedotnya sumber daya alam, dst.

 

Spesifikasi karya

Sepotong Untuk Bersama

instalasi dan patung

2011

Seniman asal Yogyakarta ini menetap di Sidney, Australia. Telah berpameran tunggal sejak 1998 hingga sekarang. Beberapa pameran tunggalnya yaitu The Nature of The Beast dan Sick of  Your Greed di Lismore Regional Gallery, Lismore, Australia. Frans juga mengikuti berbagai pameran bersama di sejumlah negara, seperti Spanyol, Andorra, Perancis dan beberapa negara lain. Aris juga beberapa kali meraih penghargaan atas karya-karyanya, di antaranya adalah Southern Cross Arts Festival (People’s Choice Winner) Ballina di New South Wales, Australia.

“Penghuni Rimba Ibu kota” adalah patung manusia berkepala piranha, ikan pemangsa makhluk hidup. Badan patung ini gendut dengan tangan kanan memegang sedotan, dan masuk dalam saku celana. Seperti manusia, tetapi berkepala ikan yang ganas.

Tak sulit memahami karya ini sebagai sindiran atas manusia yang kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Manusia tetapi menjadi predator terhadap sesama manusia lain. Dia makmur, tetapi itu diperoleh dari mengkhianati, menipu, bahkan menyengsarakan orang lain.  

 

Spesifikasi karya

“Penghuni Rimba Ibukota

Serat kaca, akrilik, besi dan semen

160 x 65 x 46 cm

2011

Lahir di Jakarta tahun 1983, seniman ini menamatkan pendidikan Jurusan Patung Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2008. Dia aktif berpameran dan memperoleh beberapa penghargaan, seperti Bandung Contemporary Art  Awards top 25 finalist, 2011, dan Bienalle Indonesian Art Awards 2010 finalist.

Bagus mengusung patung tubuh manusia dalam suasana kontemplatif. Ada tubuh utuh dengan organ paru-paru yang bisa bergerak seperti bernafas. Ada juga kulit pembungkus organ manusia yang telah dikempeskan, dicantolkan, atau dibuat memanjang. 

Melihat tubuh-tubuh ini, kita menjadi terhenyak dan terusik kesadaran kita tentang tubuh. Apakah kita sudah benar-benar mengenal ubuh kita sendiri, organ-organ dalam, perasaan, indera, berserta spiritualitasnya? Sepertinya kita memang butuh pendalaman terhadap diri sendiri secara jujur.

 

Spesifikasi karya

“The Facticity Series”

Patung

2011

Seniman kelahiran 12 Juli 1981 ini menamatkan pendidikannya di Jurusan Teknik Informatika  Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Indonesia (ST-INTEN).  Aktif berpameran sejak 2005. Karya-karyanya pernah tampil di beberapa pameran seperti ART|JOG|11, Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta; Ekspansi di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; Contemporary Landscape, Lawangwangi Art and Science Estate, Bandung; Ilustrasi Cerpen Kompas Bentara Budaya (Jakarta, Yogyakarta, Solo & Bali).

Dalam I Want To Live Another Thousand Years Baihaqi mengusung instalasi peti mayat yang disorot citra visual. Peti mayat selalu menjadi metafor yang punya banyak arti, terutama akan kematian dan kefanaan manusia. Kita hidup saat ini, tetapi suatu saat nanti pada akhirnya kita akan sampai pada ajal juga.

Jika hidup adalah fana, apakah kematian adalah kekal? Mati dan hidup sebenarnya bisa juga ditarik pada situasi yang sangat relatif.  Hidup yang sengsara tanpa kebahagiaan dan kebanggaan sebenarnya nyaris sama dengan tiada arti atau hampa. Sama saja dengan orang yang telah mati. Namun, ketika sudah mati, orang bisa tetap hidup juga mengerjakan banyak kebaikan kepada manusia lain.

 

Spesifikasi karya

I Want To Live Another Thousand Years”

Instalasi Video

4 x 4 m

Lahir di Shenyang, China, tahun 1972, Cai Zhisong lulusan dari Central Academy of Fine Arts, Sculpture Department tahun 1997, dan Post-graduate diploma from Central Academy of Fine Arts tahun 2001. Dia sempat menjadi pengajar pada The Central Academy of Fine Arts, Sculpture Department, untuk kemudian terjun menjadi seniman total.

Seniman ini dikenal dengan patung tubuh manusia yang mencitrakan tubuh tradisional, tetapi dengan hasrat kekinian. Pose dan potret orang-orang dari masa silam dimanfaatkan untuk merespons masalah zaman sekarang, seperti soal norma, ketaatan, kepasrahan, dan perenungan atas diri sendiri.


Spesifikasi karya:

“Ode To The Motherland”

Patung, perunggu

2005

Lulus dari the Berlage Institute tahun 2005, Daliana Suryawinata bekerja sebagai arsitek. Karyanya diterbitkan dalam kompilasi “Works of Young Indonesian Architects 1998-2002, dan dipamerkan di Erasmus Huis Jakarta tahun 2002 dan di the Venice Biennale tahun 2006. Ia kandidat PhD yang sebelumnya lulus dari Berlage Institute. Karyanya telah diterbitkan dalam buku Works of Young Indonesian Architechs (1998—2002) dan dipamerkan di Erasmus Huis (2002). Pada 2006 karya pengajar di Rotterdam Academy of Architecture ini berpartisipasi dalam Venice Biennale.

Andra Matin adalah seorang arsitek yang mendapat sejumlah penghargaan, seperti dinobatkan sebagai salah satu arsitek, dari 101 arsitek dunia, yang paling berkiprah di tahun 2007 oleh Wallpaper Architecture Directory. Dia banyak mengerjakan proyek rumah, bangunan perkantoran, galeri, toko, atau hotel. 

Kedua perupa ini, bersama dengan Florian Heinzelman yang merupakan rekanan Daliana di SHAU mengusung karya instalasi yang diberi nama "Sosial Mall".

Social Mall” ditujukan kepada pemerintah dan investor swasta atau developer. Proyek ini bertujuan untuk menjawab 2 problem dari kota Jakarta: (1) kurangnya fasilitas publik dan (2) terlalu banyak shopping mall, dalam satu solusi spasial.

Sejak 1980, kota mengalami sebuah peningkatan aktifitas dari sektor swasta, yang seringkali merugikan sektor publik. Sekitar 170 mall telah dibangun di area kota Jakarta sejak saat itu. Akan tetapi, walaupun trend tersebut meningkat, beberapa dari mall itu kekurangan pengunjung dan tidak terhubung dengan lingkungan sekitarnya, infrastruktur kota dan mall lainnya.

Social Mall” mengintegrasikan fasilitas publik, seperti perpustakaan, taman bermain, klinik kesehatan, lapangan olahraga, ruang terbuka hijau. Fasilitas-fasilitas tersebut dimasukkan ke dalam mall yang kurang memiliki pengunjung dan memiliki banyak ruang sewa yang kosong.
Selain itu, mereka melihat potensi dalam memaksimalkan koneksi antara mall ke mall dengan menggunakan jembatan penghubung, platform, dan ramp yang dapat mengakomodasi fasilitas publik yang juga dapat menjadi simbol baru kota Jakarta.

Seniman kelahiran Jakarta, 26 Maret 1984, ini mengecap pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Pernah bekerja di Nyoman Nuarta’s Art and Workshop. Beberapa pameran yang pernah diikutinya seperti: Satu di FSRD ITB, dan kompetisi mural Walking on the Paintingdi Cihampelas Walk, Bandung. Beberapa pameran yang terakhir diikuti seperti Bayang- Islamic Contemporer Art, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; Hybird Project: The Buterfly Effect, Museum Barli, Bandung; Hybird Project: The Buterfly Effec-Expanded, Maja House, Bandung.

Dia membuat citra besi rel kereta yang telah ditekuk dan disusun melingkar. Ada sepasang sepatu di antara potongan rel itu. Semuanya itu hanya tiruan karena dibuat dari batu.  Semuanya diletakkan begitu saja di atas lantai.

Tak sulit untuk segera membayangkan narasi dalam karya ini. Rel dan sepatu banyak dimengerti sebagai perjalanan. Lingkaran menandakan sesuatu yang tiada akhir. Mungkin hidup ini sebenarnya tak lain dari perjalanan yang terus-menerus, mungkin mengulang, dan tiada berujung.  Tinggal bagaimana kita mengisi perjalanan melingkar ini.

 

Spesifikasi karya

“Oracle”

Instalasi

2011

Seniman kelahiran Gorontalo, 19 Mei 1982, ini belajar seni rupa secara informal. Pada 2007 ia menggelar pameran tunggal bertajuk Menghadap Bumi di Gallery Surabaya, Surabaya. Karyanya berjudul Imaji Ornamen pernah dipamerkan pada Pameran Seni Rupa Nusantara di Galeri Nusantara, Jakarta. Beberapa karyanya yang lain juga pernah dipamerkan pada sejumlah pameran bersama, dan Pameran Biennale Jatim IV (2011).

Musuh Tema Dalam Cermin” karya Yusuf berbentuk lukisan potongan  wajah sangat realis yang dibelah cermin. Penonton bisa melihat wajah laki-laki di kanvas secara genap lewat bayangan dalam cermin. Karya ini memtaforkan diri yang retak.

 

Spesifikasi karya

“Pertarungan Dalam Cermin

Cermin, cat minyak di atas kanvas.

2011

The Solitude of Jiang Hua adalah karya instalasi Julia Burns (Australia) dan Enrica Ho (Hong Kong) yang merupakan pemahaman kedua artis , sebagai reaksi terhadap kompleksitas konsumerisme dan tekanan sosial pada wanita di Asia.

Kedua perupa ini menganggap bahwa tekanan ini, yang diterapkan oleh industri kepentingan dan tekanan budaya, berkembang menjadi beban ketidakpuasan dan kesadaran diri untuk wanita-wanita ini. Kesombongan tertanam terjadi, didorong oleh kebutuhan untuk bersaing dengan perempuan yang lebih muda dan lebih cantik untuk kesempatan yang terbatas. Bersumber dari eksplorasi yang pernah mereka lakukan pada isu-isu yang berkaitan dengan kecemasan dan keraguan citra diri, The Solitude of Jiang Hua bergerak dari trauma pribadi ke wilayah yang lebih luas dan menempatkan mereka dalam konteks ekonomi pada umumnya.

Para seniman kemudian meningkatkan status pertanyaan pada konsumerisme pada karya seni, seperti proses produksi dasar karya seni. Dari sudut pandang dua seniman yang tinggal di Hong Kong ini, mereka mempertanyakan asal dari 'busana' dan jurang antara konsumen kelas menengah dan pekerja pabrik amat merasa. Namun, para seniman percaya bahwa konsumen 'istimewa' tidak benar-benar beruntung; mereka hanya sekedar bagian dari sistem yang sama sebagai pekerja pabrik dan memenuhi peran yang diharapkan dari mereka. Para seniman bertujuan untuk meninggalkan pertanyaan terbuka bagi para penonton untuk memikirkan atau mendefiniskan kembali 'sistem', dengan bertanya apakah 'sistem' melayani pelanggan atau sebaliknya. 

Info lebih lanjut mengenai Enrica Ho bisa dilihat di www.enricaho.com dan Julia Burns bisa dilihat di www.juliaburns.com 

 

 

Julie Rrap, perupa asal Australia,  lahir di kota Lismore, New South Wales (NSW), pada 1950. Pameran terbarunya berjudul Julie Rrap: Off Balance yang dipamerkan di Lismore Regional Gallery, Lismore, NSW. Selama 25 tahun terakhir Rrap memfokuskan diri untuk berkarya dengan kecenderungan tubuh dan representasi perempuan dalam seni dan media.

Dia menampilkan karya 360 degree Self-Portrait yang bertumpu pada video yang menunjukkan waktu tak terbatas. Ini semacam provokasi apakah seseorang menanggapi sesuatu di luar atau di dalam diri sendiri. Muncul pula pertanyaan tentang hal-hal di luar kita, tubuh kita, atau pun apa yang terjadi dalam diri kita. Ada paradoks yang menghadirkan waktu dan gerakan yang muncul dan diabadikan dalam intensitas kehadiran.

 

Julie Laffin is an American artist whose work walks the fine line between inverting stereotypical female iconography and reproducing it. Laffin navigates the territory where meaning gets mediated through the female body by creating a spectacle to engage the audience; the spectacle of a woman adorned with a gown of enormous proportions. In choosing specific sites that provide the appropriate context for her investigations, she often transforms mundane spaces into highly charged ones to meet her own agenda.

The theme of "the dress" has been an ongoing iconographic source in Laffin’s work for almost twenty years. The artist says this about her use of "the dress"

"Clothing not only engages the body in a direct way but is also encoded with existing meaning, often invoking class and gender politics. I couldn’t agree more with feminist theorists who have pointed out that women’s bodies are frequently the site(s) where ideologies get played out or "performed" in various cultures."

A consuming part of each piece is the process of making the garment, which includes the conception, design, construction, and installation of the overly large gowns. Each garment is always problematic and yet completely wearable. Laffin views the dresses as sculptures that are activated through her performances which are often durational in nature, each lasting several hours, and often traveling from one site to another. In recent years, the work tends to occupy public spaces rather than theatrical or private ones.

Though the artist’s actions and events occur over time, the work can often be viewed, abandoned and returned to again, much like two and three-dimensional art. Laffin describes herself as a visual artist working in a multidisciplinary tradition that requires the dynamics of time to complete the images she makes. In addition to numerous performances in Chicago and the American midwest, Laffin has shown her performances in New York at Franklin Furnace Archive, The Streetwise Festival of Live Art in Glasgow, Scotland and the New Art Gallery in Walsall, England, The Prague Quadrennial, The Dutch Theatre Festival, Amsterdam and most recently, Kings College, London.

Find more about Jullie Laffin at  www.jullielaffin.com

Seniman kelahiran Jakarta, 24 Juni  1973, ini bekerja sebagai desainer perhiasan dan menetap di Ubud, Bali. Februari 2011 Kurniawati meluncurkan buku berjudul Keramik untuk Hobi dan Karir yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Ia juga bekerja sebagai instruktur keramik di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, Indonesia. Pernah menggelar pameran tunggal bertajuk Wondroushelter di Bentara Budaya Jakarta pada 2008.

Ia menampilkan satu ruang penuh benda. Ada terakota, keramik, porselen yang membentuk bangunan-bangunan arsitektural. Ada juga rumah-rumahan mini dari kertas koran/dus karton. Semua itu diletakan tak beraturan dan saling berdekatan. Sebagian rumah terbuat dari bahan terakota, mirip rumah-rumah rayap. Lantai dipenuhi serbuk gergaji dan daun-daun kering.

Melihat instalasi ini kita akan mudah teringat pada suasana kota metropolitan: penuh rumah, bangunan, mal, sumpek, kotor, dan bising. Rumah-rumahan rayap mengingatkan kita kepada kehebatan rayap yang tak henti membangun rumah yang menjulang tinggi. Apakah manusia kota sebenarnya adalah sejenis rayap, atau bahkan lebih ganas dari itu?

Kesemrawutan Jakarta mengundang imaji tak beraturan. Antara benda dan manusia bersengkrut tak berposisi. Karya ini hendak mengatakan ironi yang dikandung kota besar semacam Jakarta.

Membuat patung manusia mesin dengan banyak tangan yang memegang pelbagai benda. Satu tangan yang memegang pedang, satu memegang tasbih. Satu tangan menenteng salib, yang lain menodongkan pistol. Tangan lain mengepal, satu lagi  membawa tali.

Ini bisa menjadi gambaran tentang paradoks diri manusia. Manusia memendam unsur-unsur kebaikan sekaligus keburukan. Berbagai hal yang berlawanan bisa berkumpul dalam satu tubuh. Mungkin juga satu menutupi yang lain, seperti kebusukan di dalam yang dibungkus dengan kesalihan. Namun, bisa jadi juga orang itu tampak jahat, tapi sebenarnya punya hati yang baik. 

Lahir di Sidoardjo, Jawa Timur, secara formal belajar seni di  Seni Patung Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Beberapa karya menjadi finalis Indonesia Art Award dan telah dipamerkan di Jakarta, Yogyakarta maupun Surabaya. Beberapa di antaranya adalah  Intersection Indonesian Contemporary Sculpture, Andi`s Gallery, Grand Indonesia, Jakarta,   SPEAK OF /JogjaNews.com di JNM Yogyakarta

Seniman kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 9 Agusutus 1975, ini menamatkan studinya di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, dan menetap di kota itu. Setyo telah aktif berpameran sejak 1997. Pada 2008 ia terlibat dalam pameran Art an Accent di Guang Zhou, Cina. Pameran lain yang pernah diikuti ialah  Art for Our Life, Indonesian Visual Art Exhibition  di ISI Yogyakarta dan Eszterhazy Karoly College, Eger, Hungaria.

Setyo banyak menggarap tubuh manusia dalam citra mesin atau robotik. Namun, robot-robot itu tidak memenuhi citra robot sebagaimana biasa memenuhi film atau komik, melainkan sibuk dengan kegiatan yang lebih personal dan metaforis.  Robotnya adalah robot yang sekaligus manusia. Atau sebaliknya, manusia yang sekaligus robot.

Karya The Gun Thinker memperlihatkan sosok robot sebagai senjata yang berpikir. Bentuk tubuhnya robot, tetapi kepalanya adalah kepala manusia. Batas-batas antar kerobotan dan kemausiaan semakin tipis, atau bahkan telah lebur.

Pria Lebay adalah patung lelaki berkepala menyerupai mulut yang menganga. Tubuhnya bagus,  bersih, indah, dan terbilang “seksi” untuk ukuran zaman sekarang. Tubuh itu kian elok karena hanya dibalut sedikit kain merah pada bagian pinggangnya. Namun, semua keelokan itu seperti tersentak oleh bentuk kepala yang aneh tadi.

Ini merupakan cara untuk menertawakan perilaku manusia kota yang “lebay.” Manusia yang terus mengejar obsesi citra tubuh ideal, tetapi sesungguhnya itu hanya ilusi sementara yang diciptakan oleh pasar.  Namun, ia justru menikmatinya, bahkan mungkin juga menyadari permainan citra itu, serta ikut menertawakannya.

The Why Factory TU Delf adalah kolaborasi arsitek muda yang melakukan penelitian bersama. Merupakan antara TU Delf, Berlage Institute Rotterdam dan Universitas Tarumanagara - Jakarta. Mereka mengusung karya “Superkampung.” Ini merupakan proyek bersama yang memotret pertumbuhan kampung-kampung di Jakarta, seperti di Penjaringan, Bantar Gebang, Kebon Kacang, dan Rawajati.

Setiap kampung digambarkan mengembangkan karakteristik bisnis yang spesifik. Dengan pengembangan tersebut, setiap kampung dapat melakukan pertumbuhan dari dasar ke atas (bottom-up) dan menjaga densitinya. Perkembangan ini akan berdasarkan pada entitas ekonomi yang kecil dan berbeda di setiap kampung. Setiap kampung dituangkan dalam satu tempat yang berbeda. Semua itu disuguhkan pada satu tempat yang ditata seolah-olah menjadi sebuah panggung. Pengunjung dapat mengamati dan melihat hasil dokumentasi kampung tersebut.

Seniman yang bermukim di Bandung, Jawa Barat, ini merupakan lulusan Jurusan Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung. Beberapa pameran yang pernah diikuti antara lain: Festival Grafis Berseni, Bandung (2011), Sang Ahli Gambar dan Kawan-kawan (Tribute to S. Sudjojono) (2010), Pose-Historia di Vanessa Art Link, Singapore Prive, pameran bersama di Vivi Yip Artroom, Jakarta. Sebelumnya ia ikut berpameran pada Bazaar Art Jakarta (2009)

 

Spesifikasi karya

??

Video on canvas

2011

Valentinus Rommy merupakan lulusan Jurusan Seni Patung Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Aktif berpameran dan beberapa kali meraih penghargaan atas karya-karyanya. Ia pernah meraih Nominasi pada Kompetisi Melukis “Hari Lingkungan Hidup”di Yogyakarta (1984), Festival Film Indonesia Mural Competition, Yogyakarta (1984). Ia juga seringkali berpameran di berbagai negara seperti Hanoi Welcome International Art Exhibition at Bao Tang My Thuat Viet Nam (Vietnam Fine Arts Museum), Hanoi, Vietnam (2009), Asia Art Link 2010, Philipinas International Art Exhibition at Cultural Centre of The Philippines, Pasay City, Manila, Filipina(2010), 2010 Asia Art Fairnale International Art Exhibition at Haslla Art World Museum, Gangneum, Korea Selatan (2010).

Kali ini ia menampilkan 10 patung tentang aborsi. Fenomena aborsi menjadi sesuatu yang kontroversial, apalagi di masyarakat urban. Kepentingan untuk menyelamatkan sang ibu dengan berbagai persoalannya dengan bayi yang juga punya hak untuk hidup menjadi perdebatan serius terkait soal tubuh, agama, norma sosial, dan kebutuhan privat

Pada tahun 1997-1998 sempat belajar seni di Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia, yang dilanjutkan dengan kuliah di Institut Teknologi Bandung, Fakultas Seni dan Desain. SElain melukis, Ia juga berkaya melalui Video art.di tahun 2011 ini ia telah menggelar beberapa kali pameran diantaranya Love/Lies (Secret), Portico Terrace Café and Gallery, Jakarta dan A Room of Her Own, Dimensi Gallery, Surabaya.

Puppet Tricked adalah karya berupa patung boneka hasil jahitan yang sengaja diperlihatkan bekas-bekas jahitannya. Tak hanya itu, tubuh boneka ini penuh dengan berbagai motif beraneka bentuk dan warna. Ada motif bunga, tato kepala manusia, atau motif loreng atau belang-belang.

Tubuh boneka ini bisa diumpamakan sebagai tubuh manusia yang sebenarnya, yang menyimpan bermacam sejarah hidup. Sedih, gembira, kecewa, marah, luka, kenangan, ingatan, atau harapan, semuanya bisa turut membentuk dan memberi bekas pada tubuh manusia. Tergantung pada manusia, apakah berusaha menciptakan tubuh yang steril, memasukkan motif tertentu yang diinginkan, atau memilih berdamai dengan semua itu sebagai bagian dari pematangan diri manusia
  • slab
  • australia-the visual and craft strategy
  • kpg
  • mo space
  • erasmus huis
  • australia
  • linda gallery
  • finale
  • west gallery
  • mata perempuan
  • SIGMA
  • Eugenio Lopez Foundation
  • ALI
  • kineforum
  • crucible gals
  • yuz museum
  • asialink
  • norwegia
  • perhimpunan jiwa sehat
  • moca
  • pullman
  • AAG
  • norske
  • nsw
  • kpsi
  • mondrian
  • oaf
  • finlandia
  • rvca
  • australia for the arts
  • artesan
  • TDR
  • ncca
  • galeri nasional
  • blanc
  • lost manila
  • 1
  • frame
  • 5inch
  • SL
  • OG
  • gmci
  • jakarta-convention-exhibition-bureu