gototopgototop

PROGRAM PEMUTARAN FILM ASIA TENGGARA

 

Perlukah Identitas Asia Tenggara Dalam Berkesenian? Itulah pertanyaan besar yang hendak dijawab oleh para pelaku perfilman seperti Aditya Assarat, sutradara film asal Thailand, Yuni Hadi - Direktur Festival Film Internasional Singapura, Adolfo Alix, Jr - Sutradara Film asal Fililpina, dan Agung Hujatnikajenong, kurator Jakarta Biennale 2009, dalam diskusi panel bertajuk ‘South East Asia Film Industry’ yang digelar di Galeri Cipta 3, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dalam diskusi yang dihadiri para peminat film itu, para panelis mencoba mendefinisikan kembali Asia Tenggara. Agung Hujatnikajenong, kurator seni dari Indonesia, mengungkapkan, selain soal kedekatan geografis, negara-negara di Asia Tenggara kini menjelma menjadi sebuah entitas yang baru dan unik. Tapi perlukah identitas Asia Tenggara dimunculkan? ‘Tidak ada kesimpulan. Akan sangat sulit dan subjektif kalau kita yang menjawab itu. Mungkin orang dari luar Asia Tenggara yang bisa lebih objektif menjawab, apakah identitas Asia Tenggara perlu’, kata Agung usai acara. Agung sendiri mengaku lebih memilih untuk membiarkan kreativitas dan ide berkesenian, khususnya perfilman, berkembang sesuai keberagaman dan latar belakang yang dimiliki oleh si pembuat film. Penyeragaman bisa jadi membuat rancu identitas Asia Tenggara itu sendiri. Diskusi panel ini merupakan salah satu mata acara JIFFest ke-10 yang digelar dalam rangkaian Jakarta Biennale, XIII 2009. Bersamaan dengan program diskusi pemutaran film dilakukan di Kineforum, menampilkan 38 judul film dari 6 negara, tanggal 5 -9 Desember 2008. (Dimas Fuady)



-