gototopgototop
Banner

 

Abdi Setyawan


Lahir di Sicincin, Sumatra Barat, tahun 1971, Abdi menamatkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Sejak mahasiswa telah aktif membuat patung dengan cara dipahat dan karyanya berupa proyek-proyek masyarakat bawah.Seniman ini piawai membuat patung-patung kayu dengan pendekatan tradisional. Permukaan kayu dipahat secara kasar, sebagian dibalut pakaian sehari-hari. Karakteristik patung itu memperlihatkan citra masyarakat bawah yang biasa hidup susah. Dia menampilkan patung beberapa anak yang berwajah beringas. Mereka memagang senjata pembunuh seperti pistol dan golok. Sebagian anak menampilkan diri sebagai super hero yang memakai sayap dengan kepala dibungkus topeng singa atau makhluk bertanduk. Anak- anak ini seperti sedang bermain perang- perangan.

 

A.C. Andre Tanama


Lahir di Yogyakarta, 28 Maret 1982, Andre bek- erja di studionya Andre Tanama Art Studio yang terletak di Desa Bandung Ngaglik, Bantul, DI Yo- gyakarta. Lulus dari Institut Seni Indonesia, Yog- yakarta, pada 2005, Andre saat ini aktif mengajar Seni Rupa di almamaternya. Pada 2005 berhasil meraih gelar Master of Fine Art dengan predikat kelulusan cum laude. Informasi mengenai dirinya bisa diakses melalui www.andretanama.com.


Adel Maulana Pasha


Ketika kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Poli- tik (IISIP) Jakarta, bersama anak muda sekitar Lenteng Agung dan almumnus IISIP, Adel terli- bat mendirikan komunitas Forum Lenteng yang banyak bergerak dalam dunia visual. Pemenang pertama Asean New Media Art kelahiran 1983 ini karyanya telah banyak menjadi bagian sejumlah ajang seni rupa berskala nasional maupun inter- nasional, di antaranya adalah Oberhausen Festival Germany-Unreal Asia (2009), Video OK, massroom project di Yogyakarta dan Bandung, dan lainnya.

Dalam keadaan menjadi bangkai, manusia diperkenalkan kembali apa itu tentang diri dan identitas. Dalam kondisi menjadi mati dan tinggal tubuh, kita bertanya tentang berbagai hal yang kita persoalakan dan tidak persoalakan dalam keadaan hidup.

 

 

Adithya Novali


Aditya Novali dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 1978. Ia lulus dari Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan menempuh pasca sarjana dalam bidang desain diAkademiDesainEindhoven,Belanda.Selama di Belanda ia terlibat beberapa pameran. Ia ikut Bienalle Jakarta 2006, CP Bienalle 2005 dan Bienalle Yogja 2005. Terakhir ia terlibat pameran patung Ekspansi di Galeri Nasional Indonesia (2011).


Seniman ini membuat instalasi berupa lempengan peta Indonesia yang rusak. Permukaan negara yang disebut sebagai Tanah Air itu penyok, sebagian peyot, bahkan agak bonyok. Sebagian lempengan itu melelehkan darah segar. Karya ini mengusik kesadaran kita karena mengingatkan bangsa Indonesia yang dirundung masalah. Salah satunya, berbagai kekerasan dan konflik yang meletup di beberapa kota dan daerah belakangan ini. Entah itu berlatar belakang agama, sosial, ekonomi, atau politik, semuanya mengganggu keutuhan integrasi bangsa ini dan mempertanyakan alasan-alasan kita berdaulat sebagai bangsa dan negara.

 

 

Adi Panuntun


Adi seorang seniman yang aktif melakukan uji coba dalam bidang desain grafis, animasi, dan film. Dia mendirikan PT Sembilan Matahari, perusahaan kreatif pembuat disain dan film. Salah satu karyanya berupa video mapping yang ditembakkan ke beberapa gedung di Jakarta dan kota lain. Video itu mencitrakan gedung yang bergerak, runtuh, atau meleot-leot.

Dia menjadi finalis The British Council International Young Creative Enterpreneur, serta meraih penghargaan Young Inspiring Creator pada 2010. Film "Cin(t)a" karyanya yang dibuat dengan biaya minimum memenangkan Piala Citra 2009 untuk kategori skenario terbaik.

Sebuah proyeksi hologram berupa film pendek tentang interpretasi terhadap violence- resistance Jakarta. Tak saja menarik seca gagasan, karyanya juga memberikan kejutan- kejutan visual yang asyik. Kenyataan dan ilusi dibolak-balik, saling menyisip, juga saling memperkuat atau meniadakan.

 

 

Ambitext


Ambi Text adalah kelompok para desainer asal Yogyakarta, dan kini beberapa anggotanya juga tinggal di Jakarta. Mereka Kelompok ini terbiasa menggarap prorek-proyek desain di ruang publik yang mempertemukan desain, seni rupa, dan masalah sosial. Material yang dimanfaatkan sangat fleksibel, termasuk bahan limbah. Bagi mereka, ekspresi seni bisa sangat fungsional dan melibatkan partisipasi publik. Kelompok ini Mereka menyiapkan “playground” atau semacam benda mainan dari besi bekas yang dicat warna-warni. Bentuknya kotak-kotak yang asyik dipanjat, plorotan, atau semacam kursi mainan. Semua itu ditempatkan di beberapa lorong terbuka di bawah fly over, antara lain di kawasan Grogol, Lodan, dan Kalimalang, Jakarta. Anak-anak yang biasa berlalu lalang di lokasi itu bisa memanfaatkannya untuk bermain sesuka hati.

 

Anang Saptoto


Seniman kelahiran Yogyakarta, 23 September 1982, ini adalah lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Tahun ini Anang menjalani residensi di Kunstraum Bethanien, Berlin, Jerman. Pam- eran tunggal Anang pada 2009 bertajuk Pingpong Education System di MES 56, Yogyakarta dan pada 2008 Caution! Water Supply Areas, Lakibini Art-space, Yogyakarta, Indonesia. Karyanya pernah diikutkan pada Festival Tanda Kota (Video Report) yang digelar di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta.


Indonesian Zone adalah proyek fotografi yang memetakan beberapa aspek yang khas Indonesia. Cara pandangnya menghadirkan realitas dan dinamika sosial yang melingkupi setiap rekaman objeknya. Ada enam tema yang saya pilih; build- ing, culture, economy, infrastructure, space, transportation.


Andi Ramdani

Andita Purnama Sari


 

Seniman kelahiran 1981 dan sejak 2005 tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Selain belajar di Institut Kesenian Jakarta, seniman yang berkarya melalui media instalasi ini juga mendalami seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Beberapa pameran yang pernah diikuti antara lain: proyek instalasi ExplorArtion Plaza Grand Theater, Taman Ismail Marzuki, Jakarta dan Cemeti Art House, Yogyakarta.


 

Angki Purbandono

Apriyanto Omplong

Arie Dyanto


Ia dilahirkan di Klaten, 1974, dan belajar seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Anggota komunitas Apotik Komik ini mengadakan pameran tunggal pada tahun ini yang bertajuk Love/Velo di Sigi Arts, Jakarta. Bersama seniman lain, ia juga pernah pameran di luar negeri dan sudah berulang kali berpartisipasi dalam pameran-pameran di Bali, Surabaya Yogyakarta, dan kota lainnya, antara lain: Transfiguration: Indonesian Mytholo- gies, Espace Culturel Louis Vuitton, Paris, Peran- cis, Homo Ludens #2, Emmitan Gallery, Surabaya, Indonesia; Membikinnya Abadi, Galeri Semarang, Semarang dan The Topology of Flatness, Edwin’s Gallery, Jakarta.


Kota di Indonesia selalu meminggirkan pengguna moda transportasi tak bermotor. Ini dianggap sepeda tak bermotor tidak cocok dengan kehidupan modern yang serba cepat dan pasti walaupun ber- isiko pada pencemaran udara, tersedotnya sum- ber daya alam, dst.

 

Aries Prabawa


Seniman asal Yogyakarta ini menetap di Sidney, Australia. Telah berpameran tunggal sejak 1998 hingga sekarang. Beberapa pameran tunggalnya yaitu The Nature of The Beast dan Sick of Your Greed di Lismore Regional Gallery, Lismore, Australia. Frans juga mengikuti berbagai pameran bersama di sejumlah negara, seperti Spanyol, Andorra, Perancis dan beberapa negara lain. Aris juga beberapa kali meraih penghargaan atas kar- ya-karyanya, di antaranya adalah Southern Cross Arts Festival (People’s Choice Winner) Ballina di New South Wales, Australia.


“Penghuni Rimba Ibu kota” adalah patung manusia berkepala piranha, ikan pemangsa makhluk hidup. Badan patung ini gendut dengan tangan kanan memegang sedotan, dan masuk dalam saku celana. Seperti manusia, tetapi berkepala ikan yang ganas. Tak sulit memahami karya ini sebagai sindiran atas manusia yang kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Manusia tetapi menjadi predator terhadap sesama manusia lain. Dia makmur, tetapi itu diperoleh dari mengkhianati, menipu, bahkan menyengsarakan orang lain.

Ariswan Adhytama

Aris Manyul

Artura


Kelompok Artura, kelompok desain profesional yang berdiri di Jakarta tahun 2004, berusaha menyelaraskan hubungan antara desain dan seni rupa. Mereka telah mengerjakan berbagai produk desain, aksesoris rumah, karya seni, dan seni mode . Karyanya cenderung costumized, menggamit nilai-nilai lokal, dan berangkat dari material  di ruang publik, pipa  air, kawat, payung. Di situs Taman Menteng, Jakarta Pusat,  mereka membuat instalasi besar berupa burung mainan tradisional yang sekarang mulai dilupakan di kota besar.  Dengan memanfaatkan  material kawat dan kabel serta kejutan unsur kinetik, karya ini berusaha menjembatani khazanah permainan masa lalu, problem ruang publik saat ini, dan sentuhan permainan yang selalu dibutuhkan manusia.

 

Atap Alis


 

Atap Alis adalah komunitas seni yang bermarkas kawasan padat penduduk di Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Kelompok yang terbentuk pada Desember 2006 ini terdiri dari aktifis seni dan sosial yang mengembangkan praktik berkomunitas, seperti workshop, pameran, dan berkarya bersama. Melalui hubungan itulah akhirnya dapat dimulai bentuk-bentuk kerjasama, pertukaran pengetahuan dan sumber daya yang dikelola secara bersama.Kelompok ini menyiapkan “museum boneka” yang berisi bermacam boneka hasil workshop  anak-anak setempat. Materialnya berasal dari berbagai limbah rumah tangga dan insdustri.  Seni di sini tak digalakkan untuk mengundang interaksi dan partisipasi publik, tetapi juga digarap sebagai instrumen pendidikan, kampanye lingkungan, dan upaya membangun harmoni sosial.



Ayu Arista Mukti

Baihaqi (Hasan)

Bam Bam Go

Bestrizal Besta

Bonita Margaret

Budi Pradono


Budi Pradono adalah salah satu arsitek yang muda yang pernah terlibat dalam beberapa ajang pameran antara lain: CP Bienalle di Jakarta, Emerging Architecture di London, World Triennial of Architecture Interarch ke 11 di Bulgaria (2006), World Architecture Festival di Barcelona (2008). Karya-karyanya lebih memfokuskan diri kepada praktik gaya hidup kontemporer serta desain perkotaan yang berorientasi pada arsitektur hijau. Kali ini, dia akan merespons gedung utama Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, dengan membuat konstruksi yang membentuk beberapa panggung, tangga, sekaligus koridor. Karya arsitekturalnya bersemangat memberi kejutan arsitektural dan merayakan interaksi publik. 



Cahyo Basuki (Yoppy)

Catur (Bina Prasetya)

Cecilia Patricia Untario

Cipta Croft-Cusworth

Common Room

Daliana

Deni Rahman

Didot Klasta

Doni Blero

Dunadi

Edy Putu Asmara

Entang Wiharso


 

Entang Wiharso menyiapkan lima kotak sebagai seni instalasi di atas meja: kotak war, surga, art museum, kemanusiaan, dan kota teror. Kotak war dihiasi tengkorak manusia, surga dilambangkan pintu gerbang megah, art museum dengan patung, kemanusiaan berlambang kerjasama, dan kotak teror berupa kepala ganas bergigi mengerikan.  “Silakan pengunjung menyumbang ke kotak-kotak tujuan itu. Tuliskan data pengisi agar nanti bisa kirimkan imbalannya sebagai pemenang melalui pos,” kata Entang, tentang instalasinya “Sumbangan Berhadiah.” Karya itu merupakan kritik atas pertarungan fanatisme manusia yang dalam kenyataan hari-hari ini. Entang Wiharso, seniman lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, adalah salah satu seniman kontemporer Indonesia yang piawai memadukan unsur drama teater, bahasa seni rupa, dan problem tragedi kemanusiaan.

 



 

Erianto

 

Erika Ernawan


 

 

Erika Ernawan adalah seniman lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB), dan kini tinggal dan belajar di Jerman. Ia salah satu seniman muda perempuan yang menawarkan pendekatan yang segar dalam mengulik problematik perempuan. Citra tubuhnya sendiri direkam dan direfleksikan dalam cermin yang kemudian dipalu hingga retak. Ia menyiapkan sebuah video art performance yang diputar berulang di dalam ruangan khusus dengan dinding dan lantai berlapis media reflektif. Efek dramatis cermin dimanfaatkan untuk mengolah citra tubuh yang terpecah dan sebagian disapu coretan cat warna-warni. Hasilnya menjanjikan eksperimen yang provokatif sekaligus mengritik stigma tubuh perempuan dan voyeurisme oleh laki-laki.   

 

 



 

Erwin Windu Pranata

Faizal Rahman

Frans Gupita

Gabriel Aries

Gatot Indrajati

Gentur Suria

Hendra Adriyasa

Herra Pahlasari

 

HONF


 

HONF (House of Natural Fiber), komunitas asal Yogyakarta, merupakan kelompok seni media baru yang berkonsentrasi  melakukan eksperimen dan inovasi dalam mengembangkan kaitan antara seni dan teknologi. Praktiknya bisa berupa lokakarya, proyek interaktif, teknologi penelitian, media pertunjukan, ceramah, musik elektronik, dan lain kegiatan lain. Tahun 2011, kelompok ini memenangi festival media baru “Transmediale Award” di Berlin lewat karyanya ’Intelligent Bacteria - Saccharomyces Cerevisiae.’ Karya instalasi yang merepresentasikan fermentasi buah-buahan lokal dan sound art ini, mencoba menampilkan perpaduan antara ilmu biologi dan seni dengan menciptakan proses minuman buah lokal. Melalui proses fermentasi, pengunjung dapat menikmati beragam karya sound art dan juga beberapa riset tentang buah-buahan lokal untuk dijadikan minuman. Pendekatan seni dan teknologi serupa juga bakal ditunjukkan dalam Jakarta Biennale kali ini. 

 


 

I Made Widya Putra

I Nyoman Agus Wijaya

Invalid Urban

Ismanto (Wahyudi)

Itsnaini (Rahmadillah)

Ivana Stojakovic - http://ivanastojakovic.arte.rs

Iwan Hasto

Januri

Jatiwangi art Factory (JaF)

Jenny Lee

Jompet

Jumadi

Kelompok Memo

Komunitas Berkat Yakin

 

Komunitas WPAP


 

 

WPAP (Wedha Pop Art Portrait) adalah komunitas perupa yang berbasis di kawasan Blok M dan Barito, Jakarta Selatan. Mereka mengembangkan gaya ilustrasi potret wajah dalam bentuk mosaik dipecah-pecah dan berwarna-warni. Gaya pop art dunia yang dicairkan menjadi lebih rileks ini diterapkan pada kaos, poster, mug, atau lukisan lain. Komunitas ini akan menampilkan proyek terbaru di Taman Ayoda, Jakarta Selatan, berupa potret orang-orang  kawasan itu, seperti seniman, penyair, tokoh Betawi, penyanyi,  pedagang, tukang semir sepatu, atau pengemis. Potret itu dicetak besar dan didisplay pada tiang-tiang taman dengan tatanan yang unik. Ada kesatuan antara hajat seni rupa, partisipasi masyarakat lokal, gaya ilustrasi, dan taman kota.

 

 


 

 

Komunitas 12 PAS


 

Sebagian besar anggotanya adalah alumnus jurusan Seni Rupa IKJ-LPKJ, Jakarta, yang telah bergelut dengan beragam profesi berbeda, seperti pelukis, pematung, pegrafis, juga pelaku fashion. Dengan latar belakang yang berbeda, bahasa rupa anggota komunitas ini cair dan leluasa menjumput kekuatan instalasi, lukisan, mural, video animasi, patung dan desain. Terkadang, masuk pula unsur gerak tari, pencahayaan, dan bunyi. Kali ini, 12 Pas membuat jembatan penyeberangan di atas sebuah sungai di Jalan Padang-Minangkabau, Manggarai, Jakarta. Bermaterial bambu, jembatan ini tak hanya menjadi alat transportasi penyeberangan, tetapi juga sebagai rekreasi arsitektural dan estetika. Ini menjadi semacam “temporary functional art object and subject.”

 


 

Kotak - Kotak

Laksmi Shitaresmi

Lugas Syllabus

Mimi Fadmi

M.R.Adytama Pranada

Nia Gautama

Oom Leo (Narpati Awangga)

Pink Girl Go Wild

Prabhoto Satrio

 

Project#01

Quint Plus

Rafi Ahmad

Ranna Pramulya

 

R.E. Hartanto


 

 

R.E. Hartanto, perupa asal Bandung, mengerjakan proyek khusus untuk Jakarta Biennale#14.2011. Sejak Juli lalu, ia mengundang sekitar 100 orang dari beragam profesi, etnik, agama, dan kelompok. Satu per satu  mereka dipotret secara closed-up dengan mata melirik curiga. Semua potret itu dipampang berjejeran sehingga mengesankan wajah-wajah manusia yang saling mencurigai satu sama lain. Ada juga video berisi mata yang bergerak-gerak ke kiri-kanan. Semua citra itu menyindir bangsa multikultur yang terjerumus dalam sikap saling membenci, asing, mengancam, dan tidak percaya. Mungkinkah portet buram kemajemukan ini juga bakal menimpa bangsa Indonesia, terutama jika gagal membangun kehidupan harmonis ?

 

 


 

Ritchie Ned Hansel

Roberth Kan Sasta

Rocka Radipa

Rudi Hendriatno

Rudi St Darma

Sarah Lana

Sigit Bapak

Sun Wahyu

Susilo Sudirman

Syahroni Lantang

Taufik

Taufik Monyong

Teguh Agus Priyanto

Tiarma Sirait

Toufik Panji Wisesa

Vonny Ratna Indah

Wayan Upadana

William Wahyu Waluyo

Wilman Syahnur

Yu Sing

Zaldy Armansyah


  • rvca
  • SL
  • blanc
  • norske
  • australia
  • mata perempuan
  • ncca
  • frame
  • australia for the arts
  • 1
  • artesan
  • slab
  • erasmus huis
  • 5inch
  • finale
  • kpg
  • finlandia
  • SIGMA
  • gmci
  • yuz museum
  • TDR
  • crucible gals
  • oaf
  • asialink
  • jakarta-convention-exhibition-bureu
  • mo space
  • west gallery
  • pullman
  • australia-the visual and craft strategy
  • kineforum
  • perhimpunan jiwa sehat
  • lost manila
  • norwegia
  • galeri nasional
  • OG
  • moca
  • kpsi
  • mondrian
  • AAG
  • linda gallery
  • nsw
  • Eugenio Lopez Foundation
  • ALI