gototopgototop
Banner

Traffic

STANI MICHIELS

 

 

“Jakarta terbangun atas kontras-kontras yang memukau. Masjid berdiri tak jauh dari kelenteng Cina, wilayah kriminal dengan rumah-rumah rendah di samping menara-menara mewah yang terproteksi, perumahan tradisional di sisi arsitektur sampah neoklasik barat…


“Percakapan saya dengan seniman dan masyarakat setempat membuat saya menemukan beragam tempat. Ketimbang membuat daftar elemenelemen yang berbeda ini, saya lebih tertarik menangkap apa yang terjadi di ruang antara, dan dengan demikian bagaimana pergeseran ekstrem terjadi di kota ini dalam waktu yang relatif singkat.


“Karena itu, saya membangun cara yang khusus untuk mengonversi video (diambil dari mobil, kereta, …) menjadi serangkaian foto tak terputus. Hal ini membentuk persepsi yang samasekali baru tentang kota: seluruh jalanan, perumahan, dan bahkan penampang kota bisa dicakup dalam satu foto tak terputus. Tak seperti fotografi panoramik 360 derajat, di sini tak ada posisi kamera yang tetap dan dominan, yang mengendalikan pandangan. Kamera, yang dibebaskan dari tripod, kini dapat bergerak dalam cara yang berliku-liku. Dengan demikian, pelihat foto selamanya terdisorientasi. Karut-marut kota diterjemahkan dalam derau dari kejauhan, tapi dalam jalan-jalan yang jelas terperinci dari
dekat.” (Pernyataan Seniman)

SHERMAN ONG


“Seri foto saya, Hanoihaiku, dibuat di Hanoi, Vietnam, saat residensi saya dengan proyek Art ConneXion Goethe Institut. Di Vietnam, segalanya
adalah tentang perubahan dan kontradiksi. Sebagai kota, Hanoi mengalami pengembangan urban yang melejit dan transformasi sosial. Dengan 70% persen populasi di bawah usia 30, negeri ini tampak bergairah dengan degup masa muda dan konsumerisme, kelaparan untuk mengikuti trend serta kesenangan global. Saya tertarik pada ide mengenai transisi dan kaitannya dengan kenangan masa lalu, tentang perubahan nilai, melalunya tradisi, dan harapan dari suatu realitas yang berbeda. Saya ingin mengeksplorasi ide apakah suatu negara ideal ada di ujung kemajuan masyarakat, atau apakah perubahan adalah suatu fenomena konstan dan siklis manusia.


“Seri ini ditampilkan sebagai haiku visual. Secara sengaja tak diberi judul, gabungan gambar-gambar ini memproduksi naratifnya dan hubungan  sementaranya sendiri, dan terbuka pada berbagai penafsiran yang dipengaruhi oleh pengalaman personal pemirsa yang berbeda. Seperti Haiku Jepang, ini merupakan pengamatan dalam bentuk termurninya, menyentuh keindahan hal yang tak sempurna, pada momen yang rapuh, sunyi, dan halus.” (Pernyataan Seniman)

SARA NUYTEMANS


“Dripping Conditions adalah instalasi video dalam-ruang yang bereaksi terhadap cuaca. Bila di luar hujan, air membasahi gadis di layar; saat
hujan berhenti, sang gadis pun kering. Instalasi ini menunjukkan betapa ketidakstabilan lingkungan akibat perubahan iklim bertabrakan dengan masyarakat modern, yang berusaha mengendalikan dan memprediksi. Dalam konteks Indonesia, perubahan iklim terjadi di hadapan masyarakat dengan sejarah pemerintahan kolonial dan diktatorial. Setelah hidup dalam ketidakadilan begitu lama, masyarakat Indonesia terbiasa bergerak meski dihadang hujan.

“Saya senang meletakkan semua hal dalam perspektif yang sesuai dengan memisahkan realitasrealitas (kebenaran-kebenaran) yang berbeda dan kemudian menghubungkannya lagi. Dalam karya saya, saya mencoba mencari jalan yang memungkinkan komunikasi antara berbagai  realitas yang berbeda. Saya melakukan hal tersebut dengan membuat gambar-gambar video yang merespons terhadap dunia fisik dan  sebaliknya, sedemikian rupa sehingga dua hal ini saling memengaruhi. Dalam kerangka ini, ketegangan antara perasaan pribadi dan momen fisik terutama menarik perhatian saya, karena perspektif seseorang erat terkait dengan nilai-nilai dan penilaian pribadi, tapi juga dengan
perasaan aman dan nyaman dalam lingkungan sendiri.


“Umumnya, karya saya merupakan respons terhadap kekuatan media masssa, dan terutama media-TV-massa—bagaimana ia hanya dapat
menampilkan sepilihan ‘kebenaran’ yang telah tersaring dan termanipulasi. Media massa membuat publik percaya bahwa hanya ada satu versi
kebenaran.” (Pernyataan Seniman)

PHIL COLLINS

Works by the British artist, Phil Collins, are widely known because his video, installation, and photography works are able to marry political issues with popular cultures in quirky, witty, and provocative manner. The artistic strategy that he often takes is by becoming directly involved in a specific location, then invites the communities inside to an interactive and participatory activity that is both emotional and creative. With video and photo camera, Collins made use of the ‘documentary’ techniques and mode of work to introduce representation of matters of politics and the global culture. Collins’s video work in this biennale, Dunia Tak Akan mendengar (2007) was done in Jakarta and Bandung in February – March 2007. This is the last of a trilogy, after Bogota (2004) and Istanbul (2005).
The work shows a karaoke session with songs from the music group from Manchester, England, The Smiths, in the album entitled “The World Won’t Listen (1987). The songs are sung by people from different backgrounds.

The recording session of the video Dunia Tak Akan  Mendengar in Indonesia only took a few days. Invitations to participate, distributed merely through e-mails and weblog, did not prevent many from coming. Through this project, Collins managed to bring together many social, economic, and cultural differences through the idiom of pop culture. Certainly, many would not have guessed that the Manchester music group that was popular in the early eighties still has many fans in places like Indonesia. This is something that Collins dubs ‘the power of the popular culture to move people and in ways that have previously unimaginable.” An
array of expressions shown in Collins’s video recording show the potentials of the camera as a tools that liberates one from psychological barriers—such as shyness or fear—and simultaneously unveil human’s hidden desires and personality. (AHJ)

NADIAH BAMADHAJ

“I have never used drawing as a precursor to painting. Trained as a sculptor, my drawings have always been an end in themselves, using the torn pieces of the paper as a means of building up three dimensional quality of the forms that I select to draw. “The drawing Harus Lewat Gapura (You have to go through the Gapura) combines a self-portrait as Medusa, and a small linear depiction of a gapura, engraved in the drawing’s acrylic frame. “The Gapuras are architectural norms in Yogyakarta where I have lived for the last six years. They are constructed as gateways or entrances to streets, kampungs, and other enclosures; vary greatly in size and detail; and are built primarily by the residents of those spaces. “I see gapura as a means of social delineation.

Though one’s physical association with it is fleeting as the seconds it takes to pass through it, certain kampungs place significant effort into a gapura’s design and construction. Rather than a means of welcoming, a gapura is a signal that one is entering an area specific to the people who built it, to be wary of the environment and one’s status as an visitor, and to modify one’s behavior according to these signs. Interestingly enough, gapura delineates everyone that lives outside its confines as a ‘foreigner’. “Medusa is a foreigner amongst foreigners. Condemned in Greek mythology by Athena for being raped by Poseidon then slain by Perseus, her ability to be misunderstood is an understatement. Adding a significant complication to the undertones of delineation and conformity, this drawing suggests that a Medusa-like character could not possibly fit into the expectations of those that ‘construct’ the gapura, yet at the same time, she has no choice
in the matter.” (Artist Statement)

Artikel yang lain...

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Mulai
Sebelumnya
1